Kiat dari Bhante untuk Para Pelajar yang Menghadapi Ujian | Master Jingben

阅读
语言
功能

Kiat dari Bhante untuk Para Pelajar yang Menghadapi Ujian

Master Jingben

【Bagaimana Jika Gugup Saat Ujian?】

Saat yang paling sulit di ruang ujian terkadang bukan soalnya, melainkan gelombang kepanikan yang tiba-tiba muncul: “Sepertinya ini belum saya pelajari.” Atau, “Aduh, saya lupa.” Pada detik itu, tangan mulai berkeringat, pikiran menjadi kosong, dan huruf-huruf di hadapan kita, satu per satu, tiba-tiba menjadi asing. Terlalu khawatir justru membuat pikiran kacau. Semakin kita ingin menggenggam, semakin terlepas; semakin kita ingin tampil baik, semakin tidak keluar. Jika kita mengalami momen seperti itu — letakkan pena terlebih dahulu, dan lafalkanlah dengan lembut satu kalimat ini: Namo Amitabha Buddha. Saat melafalkan, dengan berkat cahaya Buddha, hati yang gelisah perlahan-lahan menjadi tenang. Hal-hal yang kita kira sudah terlupakan, sedikit demi sedikit, akan muncul kembali ke permukaan. Jalan pikiran untuk menjawab soal akan satu per satu kembali tersambung. Pada saat itulah, lakukan yang terbaik, selesaikan soal satu demi satu. Inilah yang disebut — “Hati yang tenang adalah Jalan.”

Namo Amitabha Buddha

【Bagaimana Jika Panik di Malam Sebelum Ujian?】

Malam sebelum ujian, mungkin sangat berat untuk dijalani. Buku — sudah tidak bisa masuk lagi. Tidur — tidak bisa terlelap. Pikiran berkecamuk, tidak bisa dihentikan. Jika kita mengalami malam seperti itu, cobalah: tutup bukunya. Matikan komputer, pejamkan mata. Biarkan “Namo Amitabha Buddha” mengalir dari mulut, satu kalimat demi satu kalimat, dan biarkan telinga menerimanya. Seperti itu saja — sepuluh kali, seratus kali. Seperti itu saja — satu menit, sepuluh menit. Biarkan mata kita beristirahat di dalam Nama Buddha; biarkan hati kita menemukan ketenangan di dalam Nama Buddha. Namo Amitabha Buddha. Namo Amitabha Buddha. Namo Amitabha Buddha. Walaupun hanya pelafalan singkat, kita akan menemukan: pikiran yang berserakan perlahan menjadi tenang. Rasa gugup, rasa takut, pikiran-pikiran “bagaimana jika” dan “seandainya” itu, semuanya, perlahan-lahan, mengendur. Menghadapi ujian, memang tidak harus sempurna; cukup lakukan yang terbaik — itu sudah cukup. Pelajar yang paling cemerlang pun kadang terpeleset; pelajar yang biasa pun kadang tiba-tiba mendapat ilham. Jadi, jika memang sudah merasa cukup mempersiapkan diri, istirahatlah dengan baik. Keesokan harinya, masuklah ke ruang ujian dengan hati yang tenang dan satu kalimat ini: Namo Amitabha Buddha. Buddha Amitabha akan menemani kita masuk ke ruang ujian; Buddha Amitabha juga akan menjaga kita hingga ujian selesai.

Namo Amitabha Buddha

【Bagaimana Jika Cemas Saat Menunggu Pengumuman Hasil?】

Hari ujian berakhir, pena sudah diletakkan — tetapi hati, mungkin belum benar-benar melepaskan. Menunggu nilai, menunggu pengumuman — hari-hari ini terkadang lebih berat daripada ujian itu sendiri. Jika memang mengalami hal ini, lafalkanlah Nama Buddha. Mengulang-ulang soal di pikiran, menebak-nebak nilai berulang kali, sebenarnya tidak banyak gunanya. Lebih baik, berikan diri sendiri satu latihan sederhana: Setiap pagi, lafalkan Namo Amitabha Buddha sepuluh kali. Setiap malam sebelum tidur, lafalkan sepuluh kali lagi. Jika bisa, sebelum makan setiap kali, lafalkan juga sepuluh kali Namo Amitabha Buddha. Saat hati gelisah — lafalkan. Saat hati khawatir — lafalkan. Lafalkan terus, dan hari-hari pun berlalu; lafalkan terus, dan hati pun menjadi teguh. Seperti pepatah: “Lakukanlah kebaikan, jangan risaukan masa depan.” “Sebab yang ditanam, begitulah buahnya.”

【Terakhir, Bhante Ingin Berkata:】

Perjalanan hidup ini tidak pernah ditulis hanya di satu lembar rapor. Nilai seluruh hidup kita tidak bisa diukur oleh angka semata. Ujian, mungkin adalah titik awal, tetapi bukan titik akhir — dan ia hanya salah satu titik awal di antara banyak lainnya. Seperti pepatah, semua jalan menuju Roma. Cukup temukan jalan yang cocok untuk diri sendiri, atau jalan yang bermakna — itu sudah cukup. Tetapi, jalan mana pun yang kita tempuh, Buddha Amitabha selalu ada. Buddha Amitabha mengenali kita, menemani kita, menjaga kita. Soal-soal di masa sekolah, tertulis di atas kertas; soal-soal berikutnya, tertulis di dalam kehidupan. Maka, kita boleh menempuh jalan yang berbeda-beda, tetapi tidak boleh tanpa sandaran Namo Amitabha Buddha. Buddha Amitabha, selalu ada. Buddha Amitabha, akan menemani kita, melewati setiap soal kehidupan.

Terakhir, dengan sepenuh hati kami mendoakan setiap pelajar — Percaya pada Buddha, lafalkan Nama-Nya, hadapi ujian dengan tenang; semoga kebijaksanaan dan berkah bertambah, dan masa depan bersinar cerah. Semoga setiap pelajar yang tekun, di bawah penjagaan Buddha Amitabha, melewati rintangan kecil di depan mata dengan lancar, dan melangkah dengan tenang melewati setiap tetes perjalanan di masa depan.

Namo Amitabha Buddha

Catatan: Setiap tahun, selalu ada masa seperti ini — ketika ribuan pelajar melangkah masuk ke ruang ujian, menghadapi ujian-ujian besar dan kecil dalam hidup. Seorang sahabat Dharma, tergerak oleh pemikiran ini, dengan hormat memohon Master Jingben untuk menyampaikan kata-kata doa bagi para pelajar di seluruh dunia. Bhante dengan welas asih menyanggupi, dan menuliskan pesan Dharma ini, beserta beberapa “kiat” dalam menghadapi ujian. Semoga setiap anak yang melangkah masuk ke ruang ujian dapat melakukannya dengan hati yang tenang dan tenteram. Namo Amitabha Buddha.
阅读
语言
功能

分享文章

微信分享

扫描二维码,或复制链接分享