Tubuh Lemah, Suara Tak Bertenaga — Apakah Pelafalan dalam Hati Cukup? | Master Jingben

阅读
语言
功能

【Seri Tanya-Jawab】

Tubuh Lemah, Suara Tak Bertenaga — Apakah Pelafalan dalam Hati Cukup?

Pertanyaan: Master Jingben, Namo Amituofo. Saya dengan hormat memohon petunjuk dari Suhu — saya tidak dapat melafalkan Nama Buddha dengan suara, hanya bisa melafalkan dalam hati, karena lidah saya terasa sakit dan jantung saya terasa lemah. Apakah pelafalan dalam hati seperti ini tetap dapat membawa kelahiran di Tanah Suci? Mohon jawaban dari Suhu. Namo Amituofo.

Jawaban Master Jingben: Namo Amituofo. Mohon tenangkan hati Anda — pelafalan dalam hati sama sekali tidak menjadi masalah, dan sama-sama dapat membawa Anda terlahir di Tanah Suci.

Kunci dari pelafalan Nama Buddha terletak pada satu kalimat "Nama" itu sendiri, bukan pada apakah kita melafalkan dengan suara keras, suara pelan, dalam hati, ataupun dengan pelafalan vajra. Baik dilafalkan dengan suara maupun dalam hati, Buddha Amitabha mendengarnya dan mengetahuinya — sebab yang Anda lafalkan adalah Nama yang sama, "Namo Amituofo." Nama itu sendiri adalah Buddha Amitabha — Wujud-Nya berdiam di dalam Nama ini. Maka, asalkan Nama Buddha ini sedang dilafalkan, jasa kebajikan Buddha Amitabha sudah sepenuhnya lengkap di dalamnya — sama sekali tidak ada hubungannya dengan bentuk pelafalannya.

Lebih dari itu, karena lidah Anda terasa sakit dan jantung Anda terasa lemah, maka pelafalan dalam hati justru merupakan cara yang paling cocok bagi Anda. Tidak perlu memaksa diri untuk melafalkan dengan suara dan berisiko melukai tubuh. Anda juga dapat memutar alat pelafalan Nama Buddha (nianfo machine) dan melafalkan dalam hati sambil mendengarkan rekamannya. Singkatnya, cara mana pun yang paling nyaman bagi Anda, cara mana pun yang tidak menyakiti tubuh, cara mana pun yang memungkinkan Anda untuk terus melafalkan — itulah cara untuk melafalkan. Buddha Amitabha memahami semuanya, dan dengan sukacita menerimanya.

Sebenarnya, bentuk-bentuk pelafalan Nama Buddha sejak dahulu memang beragam: ada yang dilafalkan dengan suara, ada pelafalan vajra (bibir bergerak sedikit tanpa bersuara), dan ada pelafalan dalam hati (pelafalan batin); ada yang melafalkan sambil duduk bermeditasi, ada yang melafalkan sambil berjalan mengelilingi Buddha, dan ada yang melafalkan sambil berbaring — sejak zaman dahulu, semua ini diterima, semuanya adalah pelafalan Nama Buddha. Yang terpenting selalu adalah "khusus melafalkan Nama Buddha Amitabha," bukan besar-kecilnya suara.

Maka mohon tenangkan hati Anda sepenuhnya. Rawatlah tubuh Anda dengan baik, dan lafalkanlah Nama Buddha dengan tenang dalam hati. Dengan terus melafalkan kalimat demi kalimat seperti ini, Anda pasti akan dirangkul oleh cahaya welas asih Buddha Amitabha, dan pada akhir hayat, pasti akan terlahir di Tanah Suci. Namo Amituofo

阅读
语言
功能

分享文章

微信分享

扫描二维码,或复制链接分享