Seorang Pemuda Berusia Lima Belas Tahun Bertanya: Dari Mana Saya Harus Mulai Belajar Dharma? | Master Jingben
【Seri Tanya-Jawab】
Seorang Pemuda Berusia Lima Belas Tahun Bertanya: Dari Mana Saya Harus Mulai Belajar Dharma?
Jawaban Master Jingben: Namo Amituofo. Saya sangat gembira bahwa engkau ingin mempelajari Dharma! Engkau masih begitu muda, namun tetap bertahan seorang diri di tempat yang tidak ada seorang pun menemanimu — hati seperti ini sungguh langka. Mari kita jalani perlahan-lahan, dan saya akan mengajarimu selangkah demi selangkah.
1. Pelajari Dahulu yang Paling Mendasar: Melafalkan Nama Buddha
Izinkan saya mengajarkan terlebih dahulu cara yang paling penting dan paling mendasar — melafalkan Nama Buddha: Namo Amituofo.
Buddha Amitabha adalah Buddha yang penuh welas asih agung. Sebelum Beliau mencapai Kebuddhaan, Beliau telah mengikrarkan ikrar agung: asalkan para makhluk melafalkan Nama-Nya dan beraspirasi terlahir di Tanah Suci-Nya, Beliau pasti akan datang menyelamatkan mereka — tidak satu pun akan terlewatkan. Maka Nama ini bukanlah doa yang biasa; ia adalah penyelamatan yang telah Buddha Amitabha sendiri siapkan bagi kita.
2. Bagaimana Cara Melafalkannya?
Lafalkanlah seperti ini setiap hari: lafalkan saat bangun di pagi hari, lafalkan sebelum tidur di malam hari; saat berjalan, saat mengerjakan sesuatu, di sekolah, ketika perasaanmu sedang baik maupun sedang tidak baik — engkau dapat melafalkannya kapan saja. Melafalkan dengan suara boleh; melafalkan dalam hati pun boleh. Tidak perlu menghitung, tidak perlu memilih waktu atau tempat khusus — kapan pun teringat, lafalkanlah.
3. Jangan Khawatir bahwa Dirimu "Belum Cukup Baik"
Mungkin engkau berpikir: aku masih kecil, aku tidak mengerti apa-apa, dan tidak banyak yang dapat kulakukan — bolehkah aku melafalkan seperti ini? — Sepenuhnya boleh. Melafalkan Nama Buddha tidak menuntutmu untuk lebih dahulu memahami banyak ajaran, ataupun lebih dahulu menjadi orang yang sangat baik. Buddha Amitabha menyelamatkan kita bukan karena kita cukup baik, melainkan karena Beliau penuh welas asih. Lafalkanlah terus seperti ini, dan itu sudah tepat.
4. Hal Apa yang Sebaiknya Dilakukan, dan Apa yang Tidak?
Engkau bertanya: hal apa yang tidak sebaiknya kulakukan? Apa yang buruk? Sebenarnya Buddha-Dharma itu sangat sederhana, hanya satu prinsip: jangan berbuat kejahatan apa pun, lakukanlah segala kebajikan.
Apa pun yang akan menyakiti para makhluk, hendaknya kita hindari; apa pun yang dapat memberi manfaat bagi para makhluk, hendaknya kita upayakan sebisa mungkin. Misalnya: di rumah, perlakukanlah orang tuamu dengan baik; ketika berada di luar, perlakukanlah teman-temanmu dengan baik; di sekolah, hormatilah gurumu; dan kelak ketika bekerja, perlakukanlah rekan kerjamu dengan baik. Pada saat yang sama, berbuat baiklah pula kepada semua makhluk, termasuk hewan dan segala makhluk kecil.
Apa pun yang engkau alami: ketika itu baik, bersukacitalah; ketika itu buruk, lafalkanlah Nama Buddha dan limpahkanlah jasa kebajikan — inilah kehidupan seorang pelafal Nama Buddha.
Adapun mengenai makanan: jika engkau mampu bervegetarian dan tidak memakan daging dari makhluk yang dibunuh, itulah yang terbaik. Jika untuk sementara engkau belum mampu, engkau boleh terlebih dahulu memakan apa yang disebut "tiga jenis daging yang murni" — daging yang tidak engkau bunuh sendiri, yang tidak dibunuh untukmu, dan yang pembunuhannya tidak engkau lihat maupun engkau dengar. Asalkan hatimu memelihara welas asih, dan engkau tidak membunuh dengan tanganmu sendiri hanya karena ingin memakannya, itu sudah cukup.
Dan jika hal ini pun belum memungkinkan bagimu, maka jadikanlah terlebih dahulu pelafalan Nama Buddha sebagai kebiasaanmu. Jika keluargamu untuk sementara belum dapat menerimanya, janganlah bertengkar dengan mereka karena soal makanan. Engkau masih muda; kelak ketika engkau dewasa, engkau akan dapat memilih dan menyesuaikannya sendiri.
Yang terpenting tetaplah melafalkan "Namo Amituofo" setiap hari. Melafalkan Nama Buddha adalah praktik kita yang paling mendasar; adapun yang lainnya, jalanilah perlahan-lahan.
5. Perlahan-lahan Saja
Pertama-tama, bentuklah kebiasaan melafalkan Nama Buddha. Bagi orang yang melafalkan, cahaya Buddha Amitabha menjaga dan melindunginya setiap saat; hati menjadi semakin tenang, dan semakin berkekuatan.
Pada saat yang sama, engkau dapat lebih banyak mendengarkan dan membaca ajaran tentang Buddha Amitabha, dan sedikit demi sedikit memahami welas asih-Nya. Di situs web pusat Dharma tersedia materi berbahasa Inggris; engkau dapat membaca sedikit setiap hari — tidak perlu terburu-buru, sedikit demi sedikit saja. Adapun ajaran dalam bahasa Mandarin, engkau juga dapat membaca dan mempelajarinya dengan bantuan terjemahan.
Dan ingatlah juga: mempelajari ajaran Buddha tidak menuntutmu meninggalkan kehidupan yang sudah engkau jalani; sebaliknya, ia memberimu, di dalam kehidupan itu sendiri, satu sandaran yang lebih.
Jika engkau memiliki pertanyaan, engkau selalu boleh bertanya lagi kepada kami. Untuk sekarang, mulailah melafalkan satu untaian nama ini, "Namo Amituofo" — itulah permulaan yang paling baik. Namo Amituofo
微信分享
扫描二维码,或复制链接分享