Bagaimana Seorang yang Penakut Melafalkan Nama Buddha? | Master Jingben
【Seri Tanya-Jawab】
Bagaimana Seorang yang Penakut Melafalkan Nama Buddha?
Selain itu, saya juga sering berpikir: saya telah melahirkan anak saya ke dunia ini untuk menderita, dan saya sungguh menyalahkan diri sendiri karenanya. Anak saya kelak harus menghadapi kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian, begitu pula saya. Saya adalah orang yang sangat penakut dan mudah merasa cemas; bagaimana pun saya melafalkan Nama Buddha, saya tetap saja takut. Saya juga takut anak lelaki saya akan tumbuh menjadi penakut seperti saya. Apa yang harus saya lakukan? Saya sungguh telah mencoba segala cara, namun tetap tidak mampu berhenti merasa takut.
Jawaban Master Jingben: Namo Amituofo. Izinkan saya menyampaikan ini kepada Anda terlebih dahulu: merasa takut adalah keadaan yang wajar bagi kita para makhluk biasa. Itu bukan kesalahan Anda, apalagi karena pelafalan Nama Buddha Anda kurang baik. Justru karena kita merasa takut, karena kita menderita, karena kita tidak mampu menyelamatkan diri sendiri — justru karena itulah Buddha Amitabha mengikrarkan ikrar agung-Nya bagi kita. Maka mohon tenanglah: lafalkanlah Nama Buddha bersama rasa takut itu, dan Buddha Amitabha akan sama gembiranya menyambut dan memeluk Anda.
1. Melafalkan Nama Buddha Tidak Pernah Mendatangkan Penderitaan
Izinkan saya terlebih dahulu menjelaskan hal yang paling penting bagi Anda: penderitaan memang sudah melekat dalam samsara itu sendiri — ia bukan didatangkan oleh pelafalan Nama Buddha. Melafalkan Nama Buddha justru adalah jalan keluar dari segala penderitaan ini. Orang yang melafalkan Nama Buddha, dalam kehidupan ini dilindungi dan dirangkul oleh cahaya Buddha, karma berat pun diterima dengan ringan; dan di akhir hayat terlahir di Tanah Suci, tempat segala penderitaan berakhir. Melafalkan Nama Buddha hanya membawa manfaat, tidak pernah membawa kerugian. Pemikiran bahwa "melafalkan Nama Buddha justru membuat lebih menderita" — mohon letakkanlah; sama sekali tidak ada hal seperti itu.
2. Jangan Menilai Pelafalan dari Satu Kasus
Pertama-tama, mengenai kisah-kisah yang beredar di internet, kita tidak memiliki cara untuk memastikan benar atau tidaknya, dan kita pun tidak mengetahui sebab-musabab di balik apa yang menimpa orang tersebut; hanya berdasarkan keterangan sepihak, sebuah kabar yang tidak memperlihatkan gambaran utuhnya kepada kita, kita sungguh tidak berada dalam posisi untuk menilai. Selanjutnya, kecelakaan dan jalinan karma memang bukanlah sesuatu yang dapat diperhitungkan oleh kita para makhluk biasa. Apa yang dialami seseorang dalam kehidupan ini melibatkan jalinan karma dari kalpa-kalpa tak terhitung di masa lampau — terlalu dalam dan terlalu rumit untuk kita simpulkan. Tetapi satu hal sudah pasti: bagaimanapun juga, itu sama sekali bukan malapetaka yang didatangkan oleh pelafalan Nama Buddha. Mereka yang melafalkan Nama Buddha di dunia ini sungguh senantiasa dilindungi oleh cahaya Buddha: persoalan besar mengecil, dan persoalan kecil menjadi tiada — hanya saja segalanya terselesaikan tanpa terlihat, di luar jangkauan mata jasmani kita. Maka, semakin kita menyaksikan ketidakkekalan dunia ini, semakin kita harus melafalkan Nama Buddha — bukan malah takut melafalkannya.
3. Tidak Perlu Menyalahkan Diri Sendiri
Seorang anak datang ke dunia ini karena tertarik oleh jalinan karmanya sendiri; sang ibu sama sekali tidak "mencelakakannya." Dan cobalah renungkan: hadiah paling berharga yang dapat Anda berikan kepada anak Anda saat ini adalah satu untaian nama ini, "Namo Amituofo." Karena anak Anda memiliki seorang ibu yang melafalkan Nama Buddha, ia memiliki sandaran dalam kehidupan ini dan tempat untuk pulang di kehidupan mendatang — penderitaan dunia Saha ini memang tak terhindarkan bagi siapa pun, tetapi dengan Nama Buddha ini, ia memiliki jalan keluar dari penderitaan. Maka, mohon ubahlah "penyesalan diri" Anda menjadi "rasa syukur": justru karena Anda menyayangi anak Anda dan takut ia menderita, semakin itulah alasan untuk mengajaknya melafalkan Nama Buddha bersama-sama.
4. Lafalkanlah Meski Sedang Takut
Sifat penakut adalah kebiasaan yang terbawa dari banyak kehidupan; tidak perlu melawannya — semakin keras Anda berusaha untuk "tidak takut," justru semakin tegang Anda jadinya.
Cobalah cara yang lain: ketika Anda merasa takut, lafalkanlah Nama Buddha. Bukan berarti "baru dianggap berhasil kalau melafalkan sampai rasa takutnya hilang"; melainkan "takut pun takut, melafalkan pun melafalkan" — seperti seorang anak kecil yang takut gelap lalu menyusup ke pelukan ibunya: sambil terus berdekap, sedikit demi sedikit, hatinya pun menjadi tenang. Rasa takut itu masih ada — tidak apa-apa. Rangkulan Buddha Amitabha sama sekali tidak berkurang hanya karena kita merasa takut. Lafalkanlah terus seperti ini, dan seiring berjalannya waktu, rasa takut itu akan memudar dengan sendirinya.
Terlebih lagi, begitu hati Anda sendiri tenang, putra Anda dengan sendirinya akan belajar dari ibunya: "Ketika aku merasa takut, ada Buddha Amitabha tempatku bersandar." — dan itulah keberanian terbaik yang dapat Anda berikan kepadanya.
Maka mohon tenanglah: Buddha Amitabha senantiasa menjaga kita. Melafalkan Nama Buddha bersama rasa takut itu, Anda pun tetap dirangkul oleh Buddha. Dengan adanya Buddha Amitabha, Anda dan anak Anda tidak menghadapi dunia ini seorang diri. Namo Amituofo
微信分享
扫描二维码,或复制链接分享