Apakah "Kekosongan" yang Diajarkan Buddhisme Menyangkal Buddha Amitabha dan Tanah Suci? | Master Jingben
【Seri Tanya-Jawab】
Apakah "Kekosongan" yang Diajarkan Buddhisme Menyangkal Buddha Amitabha dan Tanah Suci?
Bagi saya, Tanah Suci Buddha Amitabha sungguh-sungguh ada, ikrar Amitabha sungguh-sungguh ada, dan Buddha Amitabha sendiri sungguh-sungguh ada; saat saya berlindung, Suhu bahkan mengatakan bahwa saya kini adalah "anak Buddha Amitabha."
Tetapi, beginilah kejadiannya: saya berada dalam sebuah grup daring, dan seseorang di sana berkata: Buddhisme mengajarkan "kekosongan," dan Tanah Suci pun tidak terkecuali — karena, katanya lagi, Master Shandao menerima ajaran dari Master Daochuo, Master Daochuo dari Master Tanluan, dan silsilah Master Tanluan dapat ditelusuri hingga Bodhisattva Nagarjuna — dan Nagarjuna justru terkenal karena karya-karyanya yang membahas "kekosongan" secara mendalam.
Mendengar itu, hati saya menjadi tidak tenang, dan saya pun sangat sulit memahami konsep "kekosongan" dalam Tanah Suci. Mungkinkah ajaran "kekosongan" itu menyangkal keberadaan nyata Buddha Amitabha dan Tanah Suci? Saya dengan tulus memohon petunjuk welas asih dari Suhu.
Jawaban Master Jingben: Namo Amituofo. Mohon tenangkan hati Anda: setelah selesai membaca, Anda akan mendapati bahwa apa yang Anda yakini — "Amitabha itu nyata, Tanah Suci itu nyata" — sepenuhnya tidak bermasalah.
1. Pahamilah Terlebih Dahulu: "Kosong" Bukan Berarti "Tidak Ada"
Banyak orang, begitu mendengar "kekosongan," mengira artinya "tidak ada apa-apa, semuanya tidak nyata" — inilah kesalahpahaman yang paling umum tentang "kekosongan."
"Kekosongan" yang diajarkan Buddha-Dharma berarti bahwa segala sesuatu tidak memiliki inti yang tetap, tak berubah, dan berdiri sendiri — segalanya muncul dari sebab dan kondisi; tetapi "kekosongan" sama sekali bukanlah "ketiadaan" yang nihilistik. Justru sebaliknya: karena kosong, karena muncul bergantungan, segala sesuatu dapat terwujud mengikuti jalinan sebab-kondisinya. Maka dalam Buddhisme ada satu ungkapan yang sangat penting — "kekosongan sejati, keberadaan yang menakjubkan": kekosongan sejati tidak menghalangi keberadaan yang menakjubkan, dan keberadaan yang menakjubkan tidak menghalangi kekosongan sejati. "Kosong" dan "ada" bukanlah dua sisi yang bertentangan, melainkan dua wajah dari satu kenyataan.
Jika seseorang hanya melekat pada "ada," tanpa kebijaksanaan kekosongan di baliknya, itu adalah "ada" di dalam samsara, yang hanya membawa kekotoran batin.
Jika seseorang hanya melekat pada "kosong," tak mampu memunculkan alam "keberadaan yang menakjubkan," itu hanyalah teori "kekosongan berat sebelah" dari Hinayana, yang tidak dapat sungguh-sungguh menyelamatkan para makhluk.
Hanya Mahayana, dengan kebijaksanaan "kekosongan" dan welas asih "keberadaan yang menakjubkan" yang tak terpisahkan, yang mampu menyelamatkan para makhluk.
2. Tanah Suci Justru Adalah Perwujudan "Keberadaan yang Menakjubkan"
Tanah Suci justru adalah "keberadaan yang menakjubkan" yang diwujudkan Buddha Amitabha melalui lima kalpa perenungan dan praktik selama kalpa-kalpa yang tak terhitung — dihiasi oleh hati ikrar-Nya, dirampungkan oleh kekuatan ikrar-Nya: sebuah negeri agung yang sungguh-sungguh ada, terwujud dari kekuatan ikrar yang nyata. Dan di balik "keberadaan yang menakjubkan" dari Tanah Suci itu, tak terpisahkan, terdapat kebenaran "kekosongan" yang sejati. Karena itulah, ketika kita tiba di Tanah Suci, kita bukan saja tidak tercemar oleh keindahannya, malah memunculkan hati yang bersukacita dan menyempurnakan Jalan Kebuddhaan.
Bodhisattva Vasubandhu, dalam Risalah Kelahiran di Tanah Suci, menguraikan secara terperinci berbagai keagungan Tanah Suci, dan pada akhirnya merangkum semuanya ke dalam "satu kalimat Dharma" — "kalimat kemurnian: Tubuh-Dharma tanpa-buatan dari kebijaksanaan sejati." Ini justru mengatakan: segala keagungan Tanah Suci (keberadaan yang menakjubkan) dan Tubuh-Dharma tanpa-buatan dari Buddha (kekosongan sejati) menyatu sempurna tanpa halangan — sejak semula adalah satu. Maka "kekosongan" bukan saja tidak menyangkal Tanah Suci, malah justru menunjukkan: Tanah Suci adalah keagungan nyata yang terwujud dari kekuatan ikrar dan Tubuh-Dharma yang paling nyata.
3. Bukti yang Paling Menakjubkan — Nagarjuna dan Vasubandhu, Dua Bodhisattva yang Bersaksi Sendiri
Teman dalam grup itu berkata: silsilah Tanah Suci dapat ditelusuri hingga Bodhisattva Nagarjuna, dan Nagarjuna justru terkenal karena karya-karyanya yang membahas "kekosongan" secara mendalam — ia hanya benar setengahnya, dan setengah lainnya justru adalah jawaban yang paling kuat:
Dalam sejarah Buddhisme, ada dua guru besar dari aliran "kekosongan" dan "keberadaan" — Bodhisattva Nagarjuna, yang membahas kekosongan mutlak secara mendalam, adalah bapak "aliran kekosongan"; Bodhisattva Vasubandhu, yang menyebarluaskan ajaran Hanya-Kesadaran, adalah bapak "aliran keberadaan." Dan inilah keajaibannya: kedua Bodhisattva agung ini — yang satu dari kekosongan, yang satu dari keberadaan — justru sama-sama adalah sesepuh mazhab Tanah Suci kita!
Nagarjuna, yang paling memahami "kekosongan," dalam Bab Praktik yang Mudah secara pribadi membedakan "jalan praktik yang sulit" dan "jalan praktik yang mudah," mengajarkan kita: bersandar pada kekuatan ikrar Buddha Amitabha dan melafalkan Nama Buddha adalah bagaikan berlayar mengikuti arus — tenteram dan mudah. Ia sama sekali tidak pernah berkata "Tanah Suci itu kosong, tidak perlu terlahir ke sana"; sebaliknya, ialah sesepuh paling awal yang menganjurkan kita melafalkan Nama Buddha dan bersandar pada kekuatan Buddha.
Vasubandhu, yang paling piawai dalam "keberadaan," menggubah Risalah Kelahiran di Tanah Suci, yang kalimat pertamanya berbunyi: "Yang Dijunjungi Dunia, dengan sepenuh hati aku menyerahkan hidupku kepada Tathagata Cahaya Tanpa Halangan yang meliputi sepuluh penjuru, dan beraspirasi terlahir di Negeri Damai dan Bahagia." — Dengan sepenuh hati menyerahkan hidup, beraspirasi terlahir di Tanah Suci.
Lihatlah: ia yang paling dalam memahami kekosongan menganjurkan kita melafalkan Nama Buddha; ia yang paling luas menyebarkan ajaran keberadaan dengan sepenuh hati beraspirasi terlahir di sana. Kekosongan pun kembali ke Tanah Suci; keberadaan pun kembali ke Tanah Suci. Kedua Bodhisattva ini sejak dahulu telah menjawab keraguan Anda dengan sempurna melalui teladan mereka sendiri: "kekosongan" dan "melafalkan Nama Buddha untuk terlahir di Tanah Suci yang nyata" tidak pernah bertentangan.
4. Tugas Kita sebagai Makhluk Biasa — "Arah Ditunjukkan, Wujud Ditegakkan": Melafalkan Nama Buddha dengan Sederhana
Kalau begitu, apakah kita sekarang perlu menguasai prinsip kekosongan yang mendalam itu? Tidak perlu — karena prinsip-prinsip demikian sering kali amatlah dalam.
Master Shandao memahami betul kapasitas kita para makhluk biasa: hakikat yang gaib dan mendalam tak terjangkau oleh makhluk biasa, dan tak dapat dijadikan sandaran. Maka Buddha, dengan welas asih-Nya, "menunjukkan arah dan menegakkan wujud" — dengan jelas menunjuk ke Barat dan menegakkan keagungannya: sungguh ada Buddha Amitabha, sungguh ada Tanah Suci; lafalkanlah Nama Buddha, dan sungguh-sungguh terlahir di sana. Inilah jalan yang kokoh dan membumi, yang telah disiapkan bagi kita para makhluk biasa.
Adapun makna mendalam dari "kekosongan sejati, keberadaan yang menakjubkan" — setelah terlahir di Tanah Suci, ketika bunga teratai mekar dan kita berjumpa dengan Buddha, dengan sendirinya kita akan menyaksikan dan memahaminya. Ibarat menyeberangi lautan dengan kapal: kita cukup naik ke kapal dengan hati yang tenang; prinsip kerja kapal itu akan menjadi jelas dengan sendirinya begitu kita tiba di pantai seberang. Tidak perlu berdiri di dermaga dan menolak naik sebelum mempelajarinya sampai tuntas.
5. Penutup
Maka, mohon tenangkan hati Anda: semua yang Anda yakini — bahwa Buddha Amitabha sungguh-sungguh ada, bahwa Tanah Suci sungguh-sungguh ada, bahwa ikrar Amitabha sejati dan tidak kosong, bahwa Anda adalah anak Buddha Amitabha — sepenuhnya benar, dan justru merupakan ajaran murni yang diwariskan dalam silsilah Master Shandao.
Adapun berbagai perbincangan yang muluk-muluk di internet — cukup didengar saja, tidak perlu terombang-ambing olehnya. Kita cukup dengan jujur dan mantap, sepenuh hati melafalkan "Namo Amituofo" dan beraspirasi terlahir di Tanah Suci — inilah keseluruhan yang diajarkan bersama oleh para sesepuh agung: Nagarjuna, Vasubandhu, Tanluan, Daochuo, dan Shandao. Namo Amituofo
微信分享
扫描二维码,或复制链接分享