Jika Sakyamuni Berdiam Kekal, Mengapa Masih Menganjurkan Kita Berlindung Sepenuhnya kepada Amitabha? | Master Jingben
【Seri Tanya-Jawab】
Jika Sakyamuni Berdiam Kekal, Mengapa Masih Menganjurkan Kita Berlindung Sepenuhnya kepada Amitabha?
1. Dalam Sutra Teratai, Buddha Sakyamuni mengungkapkan sifat kekal-Nya sendiri — tanpa awal dan tanpa akhir, telah mencapai Kebuddhaan sejak masa yang amat lampau — dan menjelaskan bahwa Beliau senantiasa berdiam di dunia ini, membimbing kita sepanjang waktu.
2. Namun dalam kitab-kitab suci Tanah Suci, Buddha Sakyamuni yang sama justru menganjurkan kita untuk berpaling kepada Buddha Amitabha, bersandar pada kekuatan ikrar welas asih Amitabha, dan memohon kelahiran di Tanah Suci.
Di sinilah keraguan saya: karena Buddha Sakyamuni bersifat kekal, senantiasa berdiam di sini bersama kita, mengapa Beliau masih perlu mengarahkan kita kepada Buddha yang lain? Bagaimana "keberdiaman kekal" Buddha Sakyamuni dan "penyelamatan penuh welas asih" Buddha Amitabha, dua kebenaran yang indah ini, dapat menyatu secara sempurna dalam Buddha-Dharma? Saya dengan tulus memohon petunjuk penuh welas asih dari Suhu.
Jawaban Master Jingben: Namo Amituofo. Izinkan saya menjawab pertanyaan Anda sebagai berikut:
1. Apa yang Diungkapkan Sakyamuni dalam Sutra Teratai — "Pencapaian Kebuddhaan sejak Masa yang Amat Lampau" — dan "Kehidupan Tak Terbatas, Cahaya Tak Terbatas" milik Amitabha, pada Hakikatnya Adalah Kebenaran yang Sama
Dalam Sutra Teratai, Buddha Sakyamuni mengungkapkan bahwa Beliau telah mencapai Kebuddhaan sejak masa yang amat lampau, dan bahwa Tubuh-Dharma-Nya senantiasa berdiam, tak pernah lenyap — ini menampakkan aspek "Tubuh-Dharma" dari seorang Buddha: kekal, tak terbatas, senantiasa berdiam. Dan nama Buddha Amitabha itu sendiri berarti "Kehidupan Tak Terbatas, Cahaya Tak Terbatas" — sama-sama tak terbatas dalam rentang kehidupan, tak terbatas dalam cahaya, kekal senantiasa hadir. Maka keduanya bukan saja tidak bertentangan; sebaliknya, keduanya saling meneguhkan: apa yang mereka sampaikan adalah satu kebenaran yang sama — bahwa "Buddha senantiasa berdiam dan tak pernah lenyap."
2. Lalu Mengapa Sakyamuni Masih Mengarahkan Kita kepada Amitabha? — Justru Karena Beliau Penuh Welas Asih, dan Berpandangan Jauh
Walaupun Buddha Sakyamuni sungguh sempurna, setelah Buddha parinirvana, kapasitas para makhluk semakin lama semakin terbatas, terlebih lagi kita berada di masa merosotnya Dharma; untuk berlatih sebagaimana Buddha Sakyamuni, kita sama sekali tidak mampu. Maka, atas dasar welas asih dan pandangan jauh yang paling dalam, sebelum meninggalkan penampakan-Nya di antara kita, Buddha Sakyamuni dengan sungguh-sungguh menitipkan kita kepada satu Buddha yang menyelamatkan kita tanpa syarat — Buddha Amitabha.
Jika kita harus mengikuti cara Buddha Sakyamuni, kita harus memutuskan kekotoran batin terlebih dahulu barulah dapat mencapainya; tetapi jika kita bersandar pada Buddha Amitabha, maka bagaimanapun kapasitas kita sebagai makhluk, dan terlepas dari apakah kita telah memutuskan kekotoran batin atau belum, kita para makhluk biasa tetap dapat mencapainya.
Ini bukanlah dengan sengaja membeda-bedakan kedua Buddha, melainkan kekuatan ikrar setiap Buddha memang berbeda. Ibarat sebuah rumah sakit, di mana setiap dokter spesialis memiliki bidang keahliannya masing-masing. Kekuatan ikrar Buddha Amitabha justru adalah menyelamatkan, tanpa syarat, setiap orang yang melafalkan Nama Buddha.
3. Sakyamuni dan Amitabha — Pembagian Tugas, Menyelamatkan Kita Bersama-sama
Buddha Sakyamuni, di dunia Saha, "memaklumkan" Tanah Suci dan menganjurkan kita untuk melafalkan Nama Buddha; Buddha Amitabha "mewujudkan" Tanah Suci dan menyambut kita dengan kekuatan ikrar-Nya — yang satu bertanggung jawab memperkenalkan dan menganjurkan, yang lain bertanggung jawab mewujudkan dan menyambut. Apa yang diselesaikan oleh kedua Buddha dengan bergandengan tangan adalah satu tugas yang sama: menyelamatkan kita.
Dalam Sutra Amitabha, para Buddha dari sepuluh penjuru bahkan secara serentak menjulurkan lidah mereka yang luas dan panjang, bersama-sama memuji Buddha Amitabha dan menganjurkan semua makhluk untuk melafalkan Nama Buddha dan terlahir di Tanah Suci. Dari sini terlihat bahwa "menganjurkan kita menuju Amitabha" adalah kehendak bersama para Buddha — keselarasan yang paling harmonis di antara Buddha dengan Buddha. Maka antara "berpaling kepada Amitabha" dan "menghormati Sakyamuni," pada dasarnya tidak ada pertentangan sama sekali — sebagaimana tidak ada pertentangan antara "menuruti kata-kata ayah" dan "berlari ke pelukan ibu."
Maka, ketika Anda melafalkan satu ini "Namo Amituofo," Anda sekaligus sedang menuruti ajaran Buddha Sakyamuni, berlindung pada kekuatan ikrar Buddha Amitabha, dan terlebih lagi selaras dengan kehendak bersama para Buddha dari sepuluh penjuru. Satu lafalan Nama Buddha, merangkum segalanya dengan sempurna, tanpa sedikit pun pertentangan. Namo Amituofo
微信分享
扫描二维码,或复制链接分享