【Seri Tanya-Jawab】
Setelah Memahami Sebab dan Akibat, Apakah Saya Justru Menjadi Dingin Hati?
Setelah belajar ajaran Buddha, ketika melihat berita korban serupa, pikiran pertama saya bukan lagi rasa iba, melainkan "buah karma mereka telah matang," bahkan sedikit merasa bahwa mereka menuai apa yang mereka tabur sendiri. Kini di dalam hati saya, kira-kira 80% sama sekali tidak tergerak, 15% adalah rasa iba yang sentimental, dan hanya 5% adalah kesedihan karena mereka menerima buah karma tanpa menyadarinya.
Bolehkah saya bertanya, Suhu: apakah keadaan saya ini akan menjadi pandangan salah? Apakah saya telah kehilangan welas asih?
Jawaban Master Jingben: Namo Amituofo. Sungguh patut dipuji bahwa Anda dapat dengan begitu jujur menceritakan perjalanan batin Anda.
1. Tidak Perlu Terbebani
Pertama-tama, Anda tidak perlu khawatir.
Anda dapat melihat perubahan dalam diri Anda, dan masih mengkhawatirkan apakah Anda telah kehilangan welas asih — hal ini sendiri sudah menunjukkan bahwa hati welas asih Anda masih ada. Orang yang benar-benar dingin hatinya tidak akan memiliki pertanyaan seperti ini.
Jadi tidak perlu terlalu tegang; ini belum dapat disebut pandangan salah.
2. Makna Sebab dan Akibat
Hukum sebab dan akibat itu nyata; hal ini tidak salah.
Namun perlu diketahui, Buddha mengajarkan sebab dan akibat agar kita dapat melihat dengan jelas arah kehidupan kita, sehingga kita dapat merenungi diri sendiri dan menemukan jalan keluar yang lebih baik — bukan untuk menghakimi orang lain, apalagi membuat kita menjadi dingin hati karenanya.
Meskipun sering dikatakan bahwa "hukum sebab dan akibat tidak pandang bulu," namun bila setiap kali melihat penderitaan orang lain kita langsung merasa "mereka menuai apa yang mereka tabur sendiri," tidak dapat ikut merasakan penderitaan mereka, bahkan tanpa sadar timbul sikap memandang dari atas ke bawah — maka hal ini bukanlah tujuan sejati Buddha mengajarkan sebab dan akibat.
3. Memahami Sebab dan Akibat, Seharusnya Semakin Berbelas Kasih
Orang yang sungguh-sungguh memahami sebab dan akibat justru akan semakin merasa iba. Mengapa? Karena para makhluk, yang tenggelam dalam kebodohan batin, menciptakan karma, dan ketika menerima buahnya pun mereka tidak tahu mengapa — inilah yang paling menggugah welas asih para Buddha dan Bodhisattva.
Master Shandao berkata: "Welas asih agung para Buddha tertuju kepada mereka yang menderita; hati mereka secara khusus mengasihi makhluk yang terus-menerus tenggelam, maka mereka menganjurkan untuk kembali ke Tanah Suci. Bagaikan orang yang tenggelam di air, dialah yang harus segera diselamatkan lebih dahulu; untuk apa menolong orang yang sudah berada di tepian?" Welas asih agung Buddha justru tertuju kepada mereka yang menderita; bagaikan ada orang yang tenggelam, yang paling mendesak untuk diselamatkan adalah orang yang berada di dalam air, bukan yang di tepian.
Mari kita renungkan: makhluk seperti apakah yang hendak diselamatkan oleh ikrar Buddha Amitabha? Justru makhluk-makhluk yang sarat kesalahan dan penderitaan ini, yang menciptakan karma, menanggung akibatnya, dan tidak mampu menyelamatkan diri sendiri. Mereka yang di mata orang lain "menuai apa yang mereka tabur sendiri," justru adalah mereka yang paling ingin segera diselamatkan oleh Buddha Amitabha.
Dan kita sendiri pun makhluk biasa, juga menciptakan karma dalam lingkaran kelahiran dan kematian. Hari ini merekalah yang menerima buah karma; seandainya kita tidak berjumpa dengan Buddha Amitabha, esok hari bisa jadi kitalah yang menerimanya. Antara mereka dan kita, sesungguhnya tidak ada perbedaan; sama-sama berada dalam penjara Tiga Alam, Anda, saya, dan mereka semuanya patut dikasihani. Bila merenung demikian, hati dengan sendirinya akan melunak.
4. Kesedihan Itu Sangat Berharga
Anda berkata bahwa ketika melihat mereka menerima buah karma tanpa menyadarinya, hati Anda merasa sedih. Kesedihan ini lebih mendalam daripada perasaan "sangat kasihan" sebelum Anda belajar ajaran Buddha, karena kini Anda melihat sebab di balik akibat, dan juga tahu di mana jalan keluarnya. Maka, ini bukanlah sekadar "rasa iba yang sentimental", melainkan hati welas asih dan kebijaksanaan yang timbul dari Buddha-Dharma. Kelembutan yang memang ada dalam hati manusia tidak pernah hendak dipadamkan oleh Buddha-Dharma; sebaliknya, Dharma memberinya arah.
5. Melafalkan Nama Buddha dan Melimpahkan Jasa
Welas asih tidak terletak pada seberapa besar gejolak di dalam hati, melainkan pada apakah kita bersedia melakukan sesuatu bagi mereka. Perasaan "sangat kasihan" sebelum belajar ajaran Buddha biasanya berlalu dan terlupakan; tetapi setelah belajar ajaran Buddha, kita tahu bagaimana berbuat sesuatu bagi mereka — ini sudah berbeda; inilah pertumbuhan yang sejati.
Maka, ke depannya bila melihat peristiwa semacam ini lagi, meskipun kemampuan kita sebagai makhluk biasa terbatas, tidak ada salahnya melafalkan "Namo Amituofo" beberapa kali bagi mereka, memohon agar Buddha Amitabha dengan welas asih-Nya menyelamatkan mereka yang telah kehilangan nyawa, serta semua makhluk yang menderita. Ubahlah sikap "tidak tergerak" menjadi "melafalkan Nama Buddha dan melimpahkan jasa" — inilah welas asih seorang pelafal Nama Buddha.
Setiap lafalan Nama Buddha yang Anda ucapkan adalah menyerahkan mereka kepada Buddha Amitabha.
6. Tersentuh Cahaya, Hati Menjadi Lembut
Tenangkanlah hati Anda: Anda tidak kehilangan welas asih. Welas asih Buddha Amitabha telah lama tertanam di dalam hati Anda dan sudah bertunas; hanya saja Anda sendiri belum menyadarinya.
Ikrar ke-33 dalam Sutra Kehidupan Tanpa Batas berbunyi: "Jika setelah aku mencapai Kebuddhaan, para makhluk di alam-alam Buddha yang tak terhingga dan tak terbayangkan di sepuluh penjuru, yang tersentuh oleh cahayaku, tidak menjadi lembut tubuh dan batinnya, melampaui para dewa dan manusia, maka aku tidak akan mencapai Pencerahan Sempurna." Asalkan Anda sering melafalkan satu Nama ini dan senantiasa dirangkul oleh cahaya Buddha, hati Anda dengan sendirinya akan semakin lembut. Namo Amituofo
微信分享
扫描二维码,或复制链接分享