Jika Semua Sudah Ditentukan Karma, Mengapa Masih Harus Berusaha? | Master Jingben

阅读
语言
功能

【Seri Tanya-Jawab】

Jika Semua Sudah Ditentukan Karma, Mengapa Masih Harus Berusaha?

Pertanyaan: Selamat siang, Suhu. Saya pernah mendengar pepatah seperti ini: "Bahkan sehelai daun yang jatuh dari pohon pun terjadi karena berbagai sebab dan kondisi — usia daun, pergantian musim, hembusan angin, perubahan cuaca, dan banyak faktor lainnya."

Maka kesimpulannya adalah: kehidupan yang kita jalani hari ini juga terhubung dengan sebab-akibat dari masa lalu. Jika segalanya sudah ditentukan oleh sebab dan kondisi, apakah kita masih perlu melakukan sesuatu untuk mengubahnya? Mohon petunjuk dari Suhu. Namo Amitabha Buddha.

Jawaban Master Jingben: Namo Amitabha Buddha. Ini adalah pertanyaan yang sangat mendalam.

Premis yang Anda kemukakan adalah benar — "segala sesuatu muncul dari sebab dan kondisi." Kehidupan kita hari ini memang erat terhubung dengan berbagai sebab, kondisi, dan akibat karma dari masa lalu — sama seperti sehelai daun yang berguguran itu.

Namun demikian, ada satu hal yang sangat penting untuk diperjelas: "sebab, kondisi, dan akibat karma" tidaklah sama dengan "fatalisme." Ini tidak berarti bahwa segalanya sudah ditakdirkan dan tidak dapat diubah sama sekali. Justru sebaliknya — karena segala fenomena muncul dari sebab dan kondisi, maka begitu sebab dan kondisi berubah, hasilnya pun ikut berubah.

Perbedaan terbesar antara kita dan daun yang berguguran itu adalah: daun bersifat pasif — ia jatuh terbawa angin, tanpa kemampuan untuk memilih. Tetapi kita, sebagai manusia, memiliki pikiran dan perbuatan. Sebab-sebab di masa lalu memang telah membentuk akibat saat ini; namun saat ini juga, justru adalah saat di mana kita sedang menciptakan sebab-sebab baru. Setiap pikiran yang muncul, setiap perkataan, setiap perbuatan kita — semuanya sedang menanam benih-benih baru untuk masa depan. Kita sama sekali bukan boneka takdir yang tidak berdaya — kita adalah yang dapat secara aktif mengubah masa depan.

Oleh karena itu, kita tidak hanya perlu berusaha — kita seharusnya bertindak dengan tekad: hindari segala kejahatan, lakukan segala kebajikan, tanamlah banyak sebab-sebab baik, maka secara alami buah dari masa depan akan ikut berubah.

Dan bagi kita para pelafal Nama Buddha, sebab yang paling kuat — sebab yang paling dapat mengubah takdir kita secara menyeluruh — adalah kalimat ini, "Namo Amitabha Buddha."

Sebab dan kondisi baik atau buruk yang biasa hanya dapat membuat kita berputar terus dalam Enam Alam, naik turun tanpa henti. Tetapi pelafalan Nama Buddha menghubungkan kita secara langsung dengan kekuatan Ikrar Agung Buddha Amitabha — dan inilah "kondisi pendukung yang paling unggul," yang melampaui segala kekuatan karma biasa. Maka, walaupun halangan karma masa lalu kita berat sekalipun, asalkan kita mulai dari saat ini menanam satu sebab "melafalkan Nama Buddha" ini, kita dapat sepenuhnya menulis ulang tujuan akhir kita — dari lingkaran kelahiran-kematian yang tak berkesudahan, menjadi kelahiran di Tanah Suci yang penuh kebahagiaan, dengan kepastian mencapai Kebuddhaan.

Maka jawabannya adalah: ya, kita harus bertindak — dan yang terpenting, kita harus mulai melafalkan Nama Buddha dari saat ini juga. Kita bukan daun tak berdaya yang terbawa ke mana pun angin bertiup. Kita adalah pribadi yang, melalui satu Nama Buddha ini, dapat menggenggam kondisi yang paling kuat, dan dengan tangan kita sendiri mengubah masa depan hidup kita. Namo Amitabha Buddha

阅读
语言
功能

分享文章

微信分享

扫描二维码,或复制链接分享