Bagaimana Cara Memuja Buddha Amitabha di Rumah? | Master Jingben

阅读
语言
功能

【Seri Tanya-Jawab】

Bagaimana Cara Memuja Buddha Amitabha di Rumah?

Pertanyaan: Suhu, Namo Amituofo. Saya dan istri telah melafalkan Nama Buddha selama dua tahun, dan kami berdua telah berikrar untuk terlahir di Tanah Suci. Karena itu, kami hanya ingin memuja Buddha Amitabha saja, dan tidak lagi memuja rupang dari kepercayaan rakyat lainnya. Bolehkah demikian?

Selain itu, ada orang yang mengatakan bahwa di rumah hanya boleh memuja rupang yang duduk, tidak boleh yang berdiri. Benarkah demikian?

Bagaimana cara memuja Buddha Amitabha? Bolehkah kami dengan hormat mengundang Suhu ke rumah kami untuk memimpin upacara penahtaan rupang? Kami belum berlindung kepada Tiga Permata — bolehkah kami sekalian berlindung pada hari itu?

Jawaban Master Jingben: Namo Amituofo. Saya sangat bergembira menerima pesan Anda. Anda dan istri telah melafalkan Nama Buddha bersama selama dua tahun, sama-sama berikrar untuk terlahir di Tanah Suci, dan kini ingin mengundang Buddha Amitabha pulang ke rumah untuk dipuja — ini adalah jalinan jodoh akar kebajikan yang sangat langka; tidak ada yang lebih baik dari ini.

1. Memuja Buddha Amitabha Saja

Memuja apa yang kita yakini adalah ungkapan lahiriah dari ketulusan di dalam hati. Dalam Komentar atas Sutra Kontemplasi, Master Shandao berkata: "Jika bersujud, bersujudlah dengan sepenuh hati hanya kepada Buddha itu; jika melafalkan dengan mulut, lafalkanlah dengan sepenuh hati hanya nama Buddha itu; jika memuji dan memberi persembahan, pujilah dan berilah persembahan dengan sepenuh hati hanya kepada-Nya." Artinya: bersujud, melafalkan Nama, dan memberi persembahan — semuanya ditujukan dengan sepenuh hati hanya kepada Buddha Amitabha. Maka bagi orang yang hanya melafalkan Nama Buddha Amitabha, bila dapat hanya memuja dan bersujud kepada Buddha Amitabha, itulah yang paling ideal. Semakin tulus, semakin terpusat; semakin terpusat, semakin kokoh keyakinan kita.

Buddha Amitabha adalah Raja segala Buddha, yang paling agung di antara segala cahaya. Melafalkan nama satu Buddha ini berarti melafalkan nama semua Buddha; ketika kita memuja satu Buddha ini, semua Buddha dan Bodhisattva bergembira dan memuji.

Lagi pula, kapasitas kita rendah dan kekuatan batin kita terbatas. Daripada mengharapkan segala hal, lebih baik dengan sederhana dan tulus menetapkan satu Buddha dan satu Nama, bersandar kepada-Nya seumur hidup, dan terlahir di Tanah Suci dengan tenang. Justru inilah jalan yang paling aman, dan yang paling menggembirakan semua Buddha.

Maka tenangkanlah hati Anda: memuja Buddha Amitabha saja, dan hanya melafalkan satu Nama ini, "Namo Amituofo" — itulah yang tepat.

2. Rupang Duduk dan Rupang Berdiri

Anggapan bahwa "di rumah hanya boleh memuja rupang yang duduk, tidak boleh yang berdiri" tidak memiliki dasar dalam sutra. Anda tidak perlu khawatir, dan tidak perlu memikirkan hal-hal semacam itu.

Lagi pula, perlu diketahui bahwa rupang Buddha Amitabha yang berdiri justru merupakan wujud penyambutan. Sutra Kontemplasi mencatat bahwa "Buddha Amitabha berdiri di angkasa," dan Master Shandao menjelaskan: "Dengan berdiri, Ia segera meraih dan berangkat, tanpa menunggu duduk tegak untuk menjawab kebutuhan para makhluk." Artinya: Buddha Amitabha berdiri di angkasa, dengan tangan terulur ke bawah Ia dapat seketika meraih kita, dan segera berangkat. Dari sini terlihat bahwa Buddha menampakkan wujud berdiri justru untuk menunjukkan betapa mendesaknya penyelamatan-Nya bagi kita — tidak dapat ditunda sesaat pun. Memuja rupang yang berdiri mengandung makna yang sangat luhur.

Tentu saja, baik rupang duduk maupun rupang berdiri, asalkan itu Buddha Amitabha, keduanya setara tanpa perbedaan.

3. Cara Memuja

Sebenarnya sangat sederhana; ada beberapa hal pokok:

Tempat: Cukup pilih tempat yang bersih, tenang, dan sedikit lebih tinggi. Bila ruang di rumah terbatas, tidak perlu terlalu terikat; yang utama adalah tempat itu membuat Anda dapat melafalkan Nama Buddha dengan hati yang tenang. Buddha Amitabha tidak akan menyalahkan Anda.

Persembahan: Sesuaikan dengan kemampuan dan tenaga Anda sendiri. Air bersih, bunga segar, buah-buahan, dan sebagainya — semuanya boleh; hanya saja, sebaiknya tidak mempersembahkan daging.

Bila hidup Anda sibuk dan tidak sempat menyiapkan persembahan, maka melafalkan Nama Buddha setiap hari itulah persembahan yang paling luhur kepada Buddha Amitabha. Pagi dan malam, lafalkanlah "Namo Amituofo" di hadapan Buddha; dan kapan pun ada waktu luang sehari-hari, lafalkanlah — saat berjalan, saat bekerja, saat beristirahat; kapan saja boleh melafalkannya. Rupang Buddha dipuja di depan mata, Nama Buddha senantiasa bersemayam di dalam hati — inilah pemujaan yang sejati.

4. Penahtaan Rupang dan Berlindung kepada Tiga Permata

Bila di tempat Anda tidak memungkinkan untuk mengundang seorang Master datang memimpin upacara penahtaan rupang, tidak perlu khawatir — Anda dapat sendiri melafalkan Nama Buddha dengan setulus hati di hadapan Buddha, dan itu sama sempurnanya. Ketahuilah, cahaya Buddha Amitabha menyinari sepuluh penjuru, merangkul semua makhluk yang melafalkan Nama-Nya: di mana pun ada "Namo Amituofo," di situ Buddha Amitabha telah hadir.

Adapun mengenai berlindung: niat Anda berdua untuk berlindung di hadapan Buddha sungguh langka, dan saya turut bersukacita serta memujinya. Berlindung kepada Tiga Permata adalah awal untuk secara resmi menjadi siswa Buddha; sejak itu, hidup memiliki sandaran dan arah yang sejati. Dan dalam "Namo Amituofo" yang kita lafalkan setiap hari, "Namo" berarti menyerahkan hidup, berlindung — maka setiap lafalan Nama Buddha adalah menyerahkan diri kita kepada Buddha Amitabha. Bila Anda berdua ingin mengetahui lebih lanjut tentang permohonan berlindung atau penahtaan rupang, silakan menghubungi pusat Dharma kapan saja.

Semoga Anda, istri, dan seluruh keluarga, sejak hari ini senantiasa ditemani Nama Buddha, dan seisi rumah hidup damai sejahtera; kelak bersama-sama memasuki Tanah Suci, dan tidak akan pernah berpisah lagi. Namo Amituofo

阅读
语言
功能

分享文章

微信分享

扫描二维码,或复制链接分享