Sekali Melafalkan Nama Buddha, Rasa Sakit pun Lenyap
Kisah Nyata
Sekali Melafalkan Nama Buddha, Rasa Sakit pun Lenyap
Namo Amituofo. Para Suhu dan sahabat yang terkasih, salam sejahtera untuk semua. Saya berasal dari Singapura. Perjalanan saya dalam Buddhisme dimulai sekitar bulan April—Mei 2021, ketika saya menemukan video-video Dharma di Facebook. Sejak saat itu, saya terus menonton berbagai ceramah Dharma di internet.
Namun menoleh kembali ke masa itu, saya harus mengakui bahwa saya belajar tanpa arah—sedikit di sini, sedikit di sana. Saya sempat mempelajari dan menghafal lebih dari sepuluh macam sutra dan mantra, serta menjalankan berbagai ritual. Melafalkan semua itu dan menjalankan ritual setiap hari sungguh melelahkan dan menyita waktu, dan saya pun tidak pernah tahu apakah yang saya lakukan itu benar. Rasanya seperti memilih-milih Dharma sesuka hati. Perlahan-lahan, saya mulai memahami dalam hati: sekadar menjalankan ritual tidak akan membawa pembebasan yang sejati.
Pada saat itulah saya menemukan video-video ceramah Dharma dari Master Jingben. Beliau mengajar dengan sangat baik dan penuh keakraban, bagaikan berbincang dengan seorang sahabat, sehingga menimbulkan kesan yang mendalam di hati saya. Yang paling menyentuh saya adalah ajaran beliau yang satu ini: siapa pun yang melafalkan "Namo Amituofo" pasti akan terlahir di Tanah Suci Buddha Amitabha. Kebimbangan saya selama bertahun-tahun pun berakhir. Saya meletakkan berbagai sutra, mantra, dan ritual itu, lalu beralih untuk hanya melafalkan "Namo Amituofo". Sejak hari itu, sejauh yang saya ingat, saya melafalkan nama Buddha setiap hari tanpa putus.
Tidak lama setelah saya beralih ke pelafalan nama Buddha, terjadilah suatu peristiwa yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Dari 17 September hingga 1 Oktober 2022, saya ditugaskan bekerja di Istanbul, Turki. Cuaca di sana dingin, selimut saya tipis, dan tempat tidurnya tidak nyaman—hari-hari terasa sangat berat. Suatu malam saat tidur, saya meluruskan kaki, dan tiba-tiba salah satu kaki saya kram. Rasa sakitnya luar biasa. Saya menggosok dan memijatnya, namun sia-sia. Seorang diri di negeri orang dan tak berdaya, saya pun mulai melafalkan nama Buddha, dan hampir sambil menangis saya berkata kepada Buddha: "Saya membutuhkan pertolongan-Mu. Kaki saya sakit sekali, dan tidak ada seorang pun di sini yang dapat menolong saya. Tolonglah saya, saya mohon." Begitu saya selesai berkata, rasa sakit di kaki saya mulai mereda—dalam waktu sekitar tiga detik, hilang sama sekali. Saya dipenuhi rasa syukur dan berulang kali berterima kasih kepada Buddha Amitabha. Saya juga menceritakan kejadian ini kepada istri saya; namun ia belum meyakini Buddha, sehingga tidak menaruh perhatian pada cerita itu.
Anehnya dan sungguh menakjubkan, tidak lama kemudian, hal yang sama terjadi pada istri saya. Ia juga mengalami kram kaki di tengah malam dan berteriak kesakitan. Teriakannya membangunkan saya. Saya menggosok dan memijat kakinya, namun sama sekali tidak berhasil—ia masih terus mengerang kesakitan. Maka saya pun beralih melafalkan "Namo Amituofo" dan memohon pertolongan Buddha: "Istri saya sangat kesakitan. Bolehkah saya memohon agar Engkau menolongnya?" Hampir seketika itu juga, sama seperti yang saya alami di Istanbul, rasa sakitnya cepat mereda, dan ia pun kembali tertidur pulas.
Keesokan harinya, saya bertanya kepada istri saya, "Kamu tahu apa yang terjadi tadi malam?" Ia menjawab, "Kram kaki saja. Kamu kan yang menolongku." Saya berkata kepadanya, "Bukan saya. Saya menggosok dan memijat kakimu, tetapi tidak berhasil; saya melafalkan nama Buddha dan memohon kepada Buddha Amitabha—Buddhalah yang menolongmu, bukan saya." Saya menunjukkan kepadanya betapa miripnya pengalaman kami berdua—rasa sakit yang hilang dalam hitungan detik—dan menganjurkannya untuk berterima kasih kepada Buddha Amitabha. Meski setengah ragu, istri saya tetap mengucapkan terima kasih kepada Buddha Amitabha. Saya yakin, Buddha Amitabha telah menanamkan sebutir benih keyakinan di dalam hatinya.
Hidup di dunia ini lebih banyak diwarnai keletihan. Semakin lama saya melafalkan nama Buddha, semakin besar kerinduan saya akan kampung halaman sejati kita, Tanah Suci, dan kadang-kadang saya bahkan berharap Amitabha, Sang Ayah yang Penuh Welas Asih, segera datang menjemput saya pulang. Namun saya tahu, semua ini harus diserahkan pada jalinan kondisi karma masing-masing—maka saya melafalkan "Namo Amituofo" dengan hati yang tenang, dan menjalankan kewajiban saya sehari-hari sebaik-baiknya.
Kini, saya melafalkan nama Buddha setiap hari, dan saya juga berusaha mengajak orang-orang di sekitar saya untuk ikut melafalkannya. Semoga mereka semua dapat menerima nama "Namo Amituofo" ini dengan keyakinan, dan semoga kita semua dirangkul oleh Buddha Amitabha serta terlahir bersama di Tanah Suci.
Itulah yang ingin saya bagikan. Semoga pengalaman-pengalaman ini dapat bermanfaat bagi mereka yang berjodoh membacanya. Namo Amituofo
Catatan: Setelah mengenal Dharma, saya juga berhasil melepaskan sebuah kebiasaan buruk yang telah lama saya miliki. Tidak lama kemudian, saya mendapatkan pekerjaan baru dengan penghasilan yang lebih baik, semangat dan konsentrasi saya meningkat dengan nyata, dan wajah saya pun tampak jauh lebih segar daripada sebelumnya.
Dengan penuh hormat, Bapak Loo
Catatan dari Master Jingben
Pengalaman sahabat kita ini menuturkan jalan yang telah dilalui banyak umat Buddha: dari yang sulit menuju yang mudah, dari yang banyak kembali kepada yang satu—beralih untuk hanya melafalkan nama Buddha Amitabha. Nama ini adalah jalan mudah yang telah dipilih oleh Buddha Amitabha dalam Ikrar Pokok-Nya, jalan yang menjamin keterselamatan. Setelah sahabat kita ini mulai melafalkan nama Buddha, kebimbangannya selama bertahun-tahun berakhir dan hatinya menjadi tenang—inilah gambaran terbaik dari makna "berlindung sepenuhnya kepada Amitabha".
Adapun rasa sakit kram yang lenyap seketika saat nama Buddha dilafalkan—tampaknya perkara kecil, namun mengandung makna yang dalam. Sutra Kontemplasi mengatakan: "Cahaya-Nya menyinari seluruh dunia di sepuluh penjuru, merangkul dan tak pernah meninggalkan para makhluk yang melafalkan nama Buddha." Penyelamatan Amitabha tidak menunggu akhir hayat untuk menampakkan diri: siapa yang melafalkan nama-Nya dalam hidup ini, dirangkul dalam hidup ini juga. Kram kaki adalah penderitaan kecil; kelahiran dan kematian adalah penderitaan besar. Jika terhadap penderitaan kecil saja Buddha segera menjawab, apalagi terhadap para makhluk yang melafalkan nama-Nya demi terbebas dari kelahiran dan kematian? Dan perhatikanlah hal ini secara khusus: istrinya belum meyakini Buddha, namun ketika nama Buddha dilafalkan, ia pun tertolong—welas asih Amitabha tidak membeda-bedakan antara yang telah meyakini dan yang belum. Ke mana pun cahaya Buddha menyinari, yang dilihat-Nya hanyalah pelafalan nama-Nya.
Setelah membaca kisah ini, semoga kita semua dapat melafalkan nama Buddha dengan hati yang tenang, menjalankan kewajiban masing-masing sesuai kondisi—dalam hidup ini dilindungi oleh Buddha, dan di akhir hayat pasti terlahir di Tanah Suci. Namo Amituofo.
Artikel ini dirampungkan pada Juli 2026.
微信分享
扫描二维码,或复制链接分享