Teratai Datang Menyambut, Buddha Amitabha Menampakkan Diri: Dua Kisah Pelafalan Nama Buddha bagi Mendiang

阅读
语言
功能

Kisah Nyata

Teratai Datang Menyambut, Buddha Amitabha Menampakkan Diri: Dua Kisah Pelafalan Nama Buddha bagi Mendiang

Melafalkan nama Buddha bagi mendiang adalah salah satu upacara Dharma yang rutin dilakukan pusat Dharma kami sepanjang tahun: atas permohonan umat, kami datang—ke rumah duka, atau ke rumah keluarga—untuk mengadakan upacara pelafalan nama Buddha bagi mendiang. Dalam dua kali kunjungan seperti itu pada tahun 2025, para anggota keluarga menceritakan kepada pusat Dharma apa yang mereka saksikan dengan mata kepala sendiri. Kami mencatatnya di sini apa adanya, untuk dibagikan sebagai jalinan jodoh dengan semua.

Pada tanggal 21 Mei 2025, seorang anggota keluarga menghubungi pusat Dharma, memohon agar seorang Master datang ke sebuah rumah duka di Shah Alam, Malaysia, untuk mengadakan upacara pelafalan nama Buddha bagi mendiang ayah mertuanya. Upacara dimulai pukul delapan setiap malam.

Tak disangka, dalam beberapa hari upacara itu, terjadilah sesuatu yang dirasakan keluarga sebagai hal yang tak terbayangkan. Setelah upacara pelafalan pada malam kedua selesai, seorang anggota keluarga bergegas datang bertanya: "Master, kemarin payung di atas peti mati tiba-tiba jatuh—terdengar bunyi ‘bruk' yang keras, dan kami mengira petinya yang roboh. Kami kaget sekali! Master, mengapa payungnya bisa jatuh? Apakah ada ‘teman-teman' lain di sekitar sini? Menakutkan sekali… Apakah payung itu perlu dikembalikan ke tempatnya?"

Master menjawab: "Mungkin letaknya kurang tepat, atau ada orang yang tak sengaja menyenggolnya saat lewat, atau mungkin juga tertiup angin yang kencang. Tenangkanlah hati Anda sekalian, tidak perlu takut—ada Buddha Amitabha di sini. Adapun mengenai apakah payung itu perlu dikembalikan, silakan mengikuti kebiasaan rumah duka, atau aturlah sesuai kehendak keluarga."

Anggota keluarga itu berkata: "Rasanya bukan begitu. Payung itu sudah beberapa hari di sana dan tidak apa-apa; lagi pula tidak mungkin tertiup angin—di belakang sana bahkan tidak ada pendingin ruangan, dari mana datangnya angin?"

Keluarga itu masih merasa bingung. Master pun menghibur mereka dengan beberapa patah kata, dan menganjurkan mereka untuk banyak melafalkan nama Buddha.

Setelah upacara pada hari ketiga selesai, keluarga itu datang dengan penuh haru dan berkata: "Master, soal payung yang jatuh yang kami ceritakan kemarin—kami sudah tahu sebabnya! Salah seorang anggota keluarga kami, ketika Master memimpin kami melafalkan nama Buddha, melihat sekuntum bunga teratai yang sangat besar dan bercahaya, turun dari langit dan berhenti tepat di tempat payung itu diletakkan di atas peti mati. Sesudahnya kami mencoba mengembalikan payung itu ke tempatnya, tetapi setiap kali diletakkan, payung itu jatuh lagi, jadi kami tidak meletakkannya lagi."

Keluarga itu lalu bertanya: "Mengapa bunga teratainya begitu besar? Besar sekali, besar sekali… Apa artinya ini?"

Master berkata: "Ini tentunya mendiang yang telah naik ke atas bunga teratai permata, disambut oleh Buddha Amitabha, dan terlahir di Tanah Suci. Dalam Sutra Amitabha, Buddha bersabda bahwa bunga-bunga teratai di alam itu ‘sebesar roda kereta.' Apa yang terlihat itu sesuai dengan yang digambarkan dalam sutra. Maka lafalkanlah nama Buddha dengan hati yang tenang, dan kelak kita semua akan berjumpa kembali di Tanah Suci." Setelah itu, keluarga tersebut terus memohon pusat Dharma untuk datang memimpin upacara bagi mereka.

Pada tanggal 29 Mei 2025, seorang anggota keluarga lain menghubungi pusat Dharma: suaminya telah meninggal dan pemakamannya telah dilaksanakan, dan ia berharap pusat Dharma dapat mengatur agar Master datang ke rumahnya untuk mengadakan upacara hari ketujuh baginya. Pukul enam petang hari itu, seorang Master beserta para relawan datang ke rumah tersebut untuk mengadakan upacara pelafalan nama Buddha bagi mendiang.

Beberapa hari kemudian, anggota keluarga ini kembali menghubungi pusat Dharma, dan menceritakan apa yang dialami putrinya yang berusia sembilan belas tahun pada hari upacara itu. Sang putri berkata: "Pada putaran pertama pelafalan, dengan mata terpejam, saya melihat seorang Buddha berdiri di hadapan saya—seluruhnya putih, bercahaya putih, berdiri di atas sekuntum bunga teratai merah muda. Pada putaran kedua, dengan mata terpejam, saya melihat setengah badan Buddha mengulurkan tangan-Nya kepada saya. Saya pun meletakkan tangan saya di atas tangan Buddha, dan saat itu saya melihat tubuh saya sendiri juga bercahaya putih. Pada putaran ketiga, dengan mata terpejam, saya kembali melihat setengah badan Buddha—hanya saja kali ini, tangan-Nya diletakkan di atas kepala saya."

Sang putri juga berkata: "Setiap kali saya melihat Buddha itu, mata-Nya seperti dua garis halus, dan rambut-Nya tampak keriting." Ia melafalkan nama Buddha bersama Master, dan merasa Buddha terus memandangnya.

Kedua kisah di atas dibagikan oleh para anggota keluarga ketika pusat Dharma mengadakan upacara di luar pada tahun 2025. Sesungguhnya, pada setiap kunjungan seperti itu, para Master dan para relawan tidak melakukan apa pun selain melafalkan satu nama ini, "Namo Amituofo," dengan hati yang biasa. Tanggapan semacam ini tidak pernah menjadi tujuan yang kami cari; yang dicatat di sini hanyalah apa yang disaksikan oleh keluarga-keluarga tersebut. Semoga semua yang membaca kisah ini turut merasakan sukacita Dharma dan melafalkan nama Buddha dengan hati yang tenang—dilindungi oleh Buddha dalam hidup ini, dan terlahir di Tanah Suci di akhir hayat.

Namo Amituofo

Dicatat dengan hormat oleh Pusat Dharma Tanah Suci, Kuala Lumpur, Malaysia

Catatan dari Master Jingben

Ada banyak cara mengadakan upacara bagi mendiang; dan di antara semuanya, melafalkan nama Buddha bagi mereka adalah yang paling langsung dan paling luhur. Mengapa demikian? Sebab nama "Namo Amituofo" adalah Nama berlaksa kebajikan, yang disempurnakan oleh Buddha Amitabha demi menyelamatkan semua makhluk—dan ke mana pun Nama ini sampai, ke sanalah cahaya Amitabha sampai. Ketika kita melafalkan nama Buddha di rumah duka, bukanlah kita, makhluk biasa ini, yang memiliki kekuatan untuk menyeberangkan mendiang; melainkan melalui Nama ini kita menyerahkan mendiang ke dalam tangan Buddha Amitabha: cahaya Buddha merangkul mereka, ikatan permusuhan lama terurai, dan setelah mendengar Nama itu, mereka disambut oleh Buddha. Sebagaimana sabda Master Yinguang, "Ketahuilah, di antara segala upacara Buddhis, melafalkan nama Buddha memiliki jasa kebajikan yang paling besar." Inilah tepatnya maksud beliau.

Karena itu, ketika ada anggota keluarga yang meninggal, hal yang paling penting adalah melafalkan nama Buddha untuknya. Mengundang seorang Master untuk memimpin upacara memang baik; namun sekalipun jodohnya belum memungkinkan, dan hanya keluarga sendiri yang melafalkannya, jasanya sama nyata. Setiap pelafalan "Namo Amituofo" sampai ke telinga mendiang, dan setiap pelafalan itu adalah panggilan Amitabha sendiri. Namo Amituofo.

Artikel ini dirampungkan pada Agustus 2026.

阅读
语言
功能

分享文章

微信分享

扫描二维码,或复制链接分享