Nenek Membawa Saya Berwisata Sehari ke Sukhāvatī — Melihat Buddha Amitabha, Saya Terharu hingga Ingin Menangis

阅读
语言
功能

Kisah Nyata

Nenek Membawa Saya Berwisata Sehari ke Sukhāvatī — Melihat Buddha Amitabha, Saya Terharu hingga Ingin Menangis

Namo Amituofo. Saya Fo Wang, dari Johor Bahru, Malaysia. Tanggal 21 Maret 2018 adalah sebuah sore yang begitu panas, sampai-sampai udara pun terasa seperti terbakar. Di luar jendela suara tonggeret tak henti-hentinya, dan matahari bersinar terik; namun sejak hari itu, sinar matahari tidak lagi membawa kegembiraan bagi saya—karena pada sore itu, nenek saya, yang baru berusia enam puluh tiga tahun, meninggalkan kami untuk selamanya. Saat itu saya berusia delapan tahun.

Setelah nenek berpulang, ibu saya segera menghubungi para sahabat teratai untuk menanyakan apa yang harus kami lakukan. Mereka berkata dengan lembut, "Pada saat seperti ini, hanya ada satu hal yang bisa dilakukan: melafalkan nama Buddha."

Dalam waktu kurang dari lima belas menit, mereka sudah bergegas tiba di rumah kami. Di dalam rumah tidak ada keributan, tidak ada ratap tangis—hanya nama Buddha, lembut dan khidmat, dilafalkan satu demi satu, perlahan bergema di udara:

"Namo Amituofo…"

"Namo Amituofo…"

"Namo Amituofo…"

Suara-suara yang rendah dan penuh welas asih itu bagaikan sebuah pelita di kegelapan, perlahan menerangi seluruh rumah. Dan itulah pertama kalinya saya, yang masih kecil, mengenal Nama "Namo Amituofo."

Waktu berlalu sedikit demi sedikit—satu jam, dua jam, tiga jam… dan pelafalan nama Buddha tidak pernah berhenti. Saat itulah saya memperhatikan wajah nenek, yang semula kaku, perlahan memunculkan seulas senyum yang damai; alisnya melengkung lembut, seperti bulan sabit di langit malam, tersemat tenang di wajahnya.

Ibu kemudian memberi tahu saya bahwa ketika ia memandikan jenazah nenek, tubuh nenek terasa luar biasa lembut, tanpa sedikit pun kekakuan. Ibu berkata pelan, "Nenek pasti sudah pergi ke Sukhāvatī."

Tetapi pada usia itu, saya sama sekali tidak tahu apa sebenarnya "Sukhāvatī" itu. Maka, dengan polosnya saya memahaminya sebagai "Happy Land"—tanah yang bahagia—sebuah tempat yang selamanya bahagia dan tidak pernah ada penderitaan.

Kemudian, mobil jenazah tiba, dan kami mengikutinya ke rumah duka untuk mengadakan upacara pemakaman nenek. Setelah upacara selesai, hidup seolah kembali tenang; beberapa bulan kemudian, semua orang perlahan kembali ke rutinitas semula.

Tetapi pertanyaan-pertanyaan di hati saya tidak pernah berhenti:

"Apakah 'Happy Land' itu menyenangkan?"

"Seperti apa rupanya?"

"Apakah nenek bahagia di sana?"

Berbagai bayangan tentang Sukhāvatī menyeruak di hati saya, gelombang demi gelombang. Diam-diam saya bertekad: suatu hari nanti, saya harus melihat sendiri tempat yang bernama "Happy Land" itu.

Sejak saat itu, setiap malam sebelum tidur, saya diam-diam memohon agar nenek membawa saya melihat Sukhāvatī. Saya juga mulai melafalkan nama Buddha dengan sungguh-sungguh, satu demi satu: "Namo Amituofo…" Dan di tengah hari-hari berdoa dan melafalkan nama Buddha itu, hari itu pun sungguh tiba.

Malam itu terasa luar biasa sunyi. Setelah tertidur, saya bermimpi—mimpi yang belum pernah saya alami sebelumnya: saya berada di dalam sebuah pesawat yang amat mewah, cahaya lembut bertaburan di sekeliling, seolah saya berada di atas awan.

"Kring—" Tiba-tiba terdengar bunyi telepon di dekat saya. Saya berlari mengikuti suara itu, mengangkat telepon, dan tanpa sadar bertanya, "Siapa ini?"

Dari seberang terdengar sebuah suara yang sangat saya kenal: "Ini aku."

Seketika itu saya terpaku—itu nenek!

Suara yang akrab itu mengalir deras ke dalam hati saya bagai air pasang; saya terkejut sekaligus sangat gembira, begitu terharu hingga hampir tak bisa berkata-kata. Setelah saling menyapa, saya bertanya dengan hati-hati, "Nenek, bisakah Nenek membawa saya ke Sukhāvatī?"

Nenek tertawa pelan dan berkata, "Tentu saja. Sekarang juga aku bawa kamu ke sana."

"Wuss—" Sekilas cahaya putih berkelebat. Ketika saya membuka mata kembali, saya sudah berdiri di sebuah dunia yang belum pernah saya lihat. Tempat itu indahnya tak seperti dunia manusia.

Nenek, yang semasa hidupnya bertahun-tahun duduk di kursi roda, kini berdiri tegak di atas bunga teratai. Tubuhnya sehat dan tegap; kerutan di wajahnya telah hilang, dan sebagai gantinya ada senyum welas asih yang belum pernah saya lihat—hangat dan damai, seolah segala kerisauan dunia telah sirna. Ia mengenakan jubah yang agung dan indah, dan seluruh dirinya memancarkan cahaya yang lembut.

Kemudian nenek menggandeng tangan saya dan membawa saya perlahan masuk lebih dalam ke Sukhāvatī.

Semakin jauh ke dalam, semakin saya merasa seperti memasuki alam semesta yang lain. Di sana tidak ada malam, juga tidak ada matahari, namun seluruh dunia itu memancarkan cahaya keemasan yang lembut. Cahaya itu sama sekali tidak menyilaukan; hangatnya seperti dipeluk lembut oleh ibu, membuat hati terasa sangat tenteram.

Yang terhampar di bawah kaki bukanlah tanah, melainkan lantai lazuardi yang bening berkilauan. Setiap kali melangkah, permukaannya memunculkan riak cahaya yang samar, seperti permukaan danau yang disentuh angin sepoi. Di sekeliling bermekaran bunga-bunga teratai raksasa yang tak terhitung—keemasan, merah muda, putih—masing-masing memancarkan cahaya lembut; kelopaknya seperti terpahat dari permata, bening dan bercahaya, begitu indah hingga mata tak sanggup berpaling.

Udara dipenuhi keharuman yang belum pernah saya cium, tidak seperti parfum, tidak pula seperti wangi bunga; cukup sekali hirup perlahan, hati pun seketika tenang. Di telinga terus terdengar lafalan nama Buddha yang lembut, seolah seluruh dunia sedang melafalkan nama Buddha. Yang lebih menakjubkan, pohon-pohon di sana pun melafalkan nama Buddha: ketika angin bertiup lembut dan daun-daun bersentuhan, terdengarlah bunyi "Namo Amituofo… Namo Amituofo…"—jernih dan khidmat, melayang di udara bagai musik.

Dari langit, bunga-bunga teratai yang tak terhitung berguguran perlahan; ketika menyentuh tanah, bunga-bunga itu tidak layu, melainkan berubah menjadi titik-titik cahaya keemasan dan terbang kembali ke langit. Di kejauhan, banyak orang berdiri di atas bunga teratai dan terbang bebas di udara, masing-masing dengan senyum damai di wajahnya, tanpa kesedihan, tanpa kerisauan.

Tepat ketika saya terhanyut dalam keindahan itu, di depan tiba-tiba muncul sebuah cahaya yang luar biasa terang. Terangnya tak terlukiskan—seolah lebih terang dari sepuluh juta matahari—namun sedikit pun tidak menakutkan; sebaliknya, membuat orang ingin mendekat. Perlahan saya berjalan menuju cahaya itu, dan semakin dekat, semakin cepat jantung saya berdetak. Hingga akhirnya saya melihat mereka—Tiga Suciwan Tanah Suci.

Seketika itu saya terpaku. Yang berdiri tepat di tengah adalah Buddha Amitabha.

Tubuh Buddha Amitabha begitu besar hingga seolah menyambungkan langit dan bumi; hanya dengan berdiri di sana, seluruh alam semesta pun seakan menjadi hening. Dari seluruh diri-Nya terpancar cahaya keemasan yang tak terhingga, terus menyebar ke segala arah, menyelimuti seluruh Sukhāvatī dengan lembut bagai gelombang laut. Jubah-Nya berkilau keemasan—bukan emas yang biasa, melainkan suatu warna agung yang belum pernah terlihat di dunia manusia, dengan titik-titik cahaya yang tak terhitung seolah mengalir di atasnya.

Yang paling tak dapat saya lupakan adalah wajah Buddha Amitabha. Itu adalah wajah yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata: bukan senyum biasa, melainkan ungkapan welas asih yang sampai pada puncaknya. Tatapan Buddha kepada para makhluk seolah mengandung penerimaan yang tak terbatas—apa pun kesalahan yang pernah kau lakukan, berapa banyak pun penderitaan yang kau alami, cukup sekali ditatap oleh-Nya, segala kepahitan di hati seketika luluh. Mata-Nya lembut seperti cahaya rembulan dari kedalaman alam semesta, namun begitu agung hingga orang tak berani menatapnya dengan sembarangan. Hanya dengan berdiri di sana, saya sudah terharu hampir menangis.

Buddha Amitabha pun tidak diam tak bergerak seperti patung Buddha di dunia manusia: cahaya pada tubuh-Nya terus mengalir, dan lingkaran cahaya di belakang-Nya berputar perlahan, lingkar demi lingkar; setiap kali berputar, bunga-bunga teratai keemasan yang tak terhitung berguguran dari langit. Berdiri di hadapan-Nya, saya begitu kecil hingga tak mencapai separuh jari kaki-Nya; namun anehnya, saya sama sekali tidak takut. Sebab yang diberikan Buddha Amitabha bukanlah rasa tertekan, melainkan ketenteraman yang belum pernah saya rasakan—seolah, asal berdiri di sisi-Nya, segala penderitaan dunia akan lenyap.

Di sisi-Nya, Bodhisattva Avalokiteśvara juga memancarkan cahaya putih yang lembut, memegang kendi air suci, dengan welas asih selembut seorang ibu; dan Bodhisattva Mahāsthāmaprāpta tampak agung tiada tara, cahaya pada tubuhnya begitu terang hingga seolah mampu menembus segala kegelapan.

Pada saat itu saya akhirnya mengerti mengapa semua orang merindukan Sukhāvatī—karena tempat itu sungguh terlalu indah: terlalu indah untuk sebuah mimpi, terlalu indah untuk dunia manusia, begitu indah hingga sekali melihat tak akan pernah terlupa.

Melihat saya yang puas dan terpesona, nenek tertawa pelan dan berkata, "Baiklah, wisata sehari Sukhāvatī-mu sudah selesai. Kamu harus kembali ke dunia nyata. Bye bye."

Begitu nenek selesai berbicara, saya terbangun dari mimpi. Matahari sedang perlahan terbit di ufuk, dan cahaya pagi keemasan memenuhi seluruh kamar. Hingga hari ini, saya tidak pernah melupakan mimpi itu.

Perjalanan itu membuat saya sangat mengagumi jasa kebajikan Buddha Amitabha yang tak terbayangkan, dan untuk pertama kalinya saya sungguh merasakan bahwa Sukhāvatī benar-benar bisa seindah itu—tanpa kerisauan, tanpa tekanan, tanpa penderitaan, hanya kedamaian dan cahaya yang tiada habisnya.

Sejak saat itu, saya melafalkan nama Buddha dengan tekad yang lebih teguh. Karena saya selalu percaya, suatu hari nanti saya akan bertemu nenek lagi; dan suatu hari nanti, saya akan sekali lagi menginjakkan kaki di tempat yang indahnya tak seperti dunia manusia itu—Sukhāvatī.

Namo Amituofo.

Dengan penuh hormat, Fo Wang

Dikirimkan kepada Pure Land Buddhism, Johor Bahru Centre, Malaysia

Catatan dari Master Jingben

Artikel ini berawal dari sebuah upacara Dharma yang diadakan di pusat Dharma kami tahun ini. Pada kesempatan itu saya menceritakan kisah seorang anak yang berkunjung ke Sukhāvatī dalam mimpi; selepas upacara, Fo Wang datang menemui saya dan mengatakan bahwa ia pun pernah mengalami hal serupa semasa kecil. Dengan gembira, saya mendorongnya untuk menuliskannya dan membagikannya kepada semua.

Ada orang di dunia ini yang menganggap Sukhāvatī hanyalah mitos keagamaan, sebuah perumpamaan untuk mendorong orang berbuat baik, dan bahwa tempat semacam itu sesungguhnya tidak ada. Namun dalam Sutra Amitabha, Buddha berulang kali mengajarkan kepada kita dengan kata "ada": "Di sebelah barat dari sini, melewati seratus ribu koti tanah Buddha, 'ada' sebuah dunia bernama Sukhāvatī. Di tanah itu 'ada' seorang Buddha bernama Amitabha, yang kini sedang membabarkan Dharma." Selanjutnya Buddha menggambarkan secara terperinci berbagai keagungan tanah itu—kolam-kolam tujuh permata, bunga-bunga teratai permata, barisan pohon permata, bunga-bunga surgawi yang berguguran. Semua ini bukanlah perumpamaan, melainkan Tanah Suci yang sungguh ada. Anak berusia delapan tahun dalam kisah ini kemungkinan belum pernah membaca ayat-ayat ini, namun apa yang ia lihat dalam mimpinya bersesuaian satu demi satu. Yang disabdakan Buddha dua ribu lima ratus tahun yang lalu, dan yang dilihat seorang anak dalam mimpi hari ini, tiada beda. Sukhāvatī Buddha Amitabha sungguh-sungguh ada.

Ada satu hal lagi dalam kisah ini yang patut diperhatikan: yang membawa anak itu berwisata sehari ke Sukhāvatī adalah neneknya yang telah berpulang. Orang-orang di dunia menganggap kepergian orang yang dikasihi sebagai perpisahan untuk selamanya. Padahal tidak demikian—orang yang melafalkan nama Buddha dan terlahir di Tanah Suci hanyalah tiba lebih dahulu di Sukhāvatī, dan kini berada bersama Buddha Amitabha. Karena hanya "tiba lebih dahulu," maka tidak ada perpisahan yang sesungguhnya, melainkan hanya berpisah untuk sementara; bila keluarga yang masih di dunia juga melafalkan nama Buddha, mereka pasti akan berjumpa kembali di Sukhāvatī, dan seluruh keluarga akan berkumpul selamanya. Karena itu, bila satu orang terlahir di sana, keluarga itu sejak saat itu memiliki "seseorang yang tiba lebih dahulu" di Sukhāvatī—bertambah satu orang terkasih, yang kini seorang bodhisattva, menunggu di Tanah Suci dan senantiasa menjaga kita.

Anak dalam kisah ini bercerita bahwa cahaya Buddha Amitabha lebih terang dari sepuluh juta matahari, namun tidak menyilaukan—hanya terasa hangat; bahwa tubuh Buddha begitu besar hingga menyambungkan langit dan bumi, namun ia tidak merasa takut—hanya merasa tenteram. Mengapa? Karena cahaya itu adalah cahaya welas asih, dan tubuh itu adalah tubuh Sang Ayah yang Penuh Welas Asih. Keagungan Buddha Amitabha bukan untuk membuat kita gentar dan menjauh, melainkan untuk membuat kita mendekat dengan tenang. Semoga para pembaca memahami dari sini: melafalkan nama Buddha berarti kembali ke sisi Sang Ayah yang Penuh Welas Asih; berikrar terlahir di Sukhāvatī berarti pulang ke rumah. Lafalkanlah "Namo Amituofo" satu demi satu, dan Buddha pasti datang menyambut. Namo Amituofo.

Artikel ini dirampungkan pada Oktober 2026.

阅读
语言
功能

分享文章

微信分享

扫描二维码,或复制链接分享