Upacara Penyeberangan Arwah dengan Pelafalan Nama Buddha | 念佛超荐仪轨(印尼版)

阅读
语言
功能

Upacara Penyeberangan Arwah dengan Pelafalan Nama Buddha

· · · · · · · · ·

Memohon Kehadiran Buddha

(Memberi penghormatan kepada Buddha — tiga kali)

Persamuhan Dharma penyelamatan Amitabha kini digelar, Himpunan agung nan suci bagai samudra pun turun hadir, Menyeberangkan segenap makhluk agar terlahir di Sukhavati, Para Buddha bersukacita, kehendak hakiki mereka pun terpenuhi.

Dengan sepenuh hati kami memohon: semoga Buddha Amitabha beserta para suci, tanpa mengingkari ikrar pokok, berbelas kasih kepada para makhluk, pada hari ini, saat ini juga, berkenan hadir di majelis Dharma ini, menjemput dan menuntun para arwah sekalian, agar terlepas dari Enam Alam Kehidupan, tidak lagi berputar dalam roda kelahiran dan kematian; terlahir di Tanah Suci Sukhavati, sepenuhnya mencapai Kebuddhaan.

Dengan sebulat hati kami menghaturkan kepada arwah [nama]: kami umat Buddha yang terjalin dalam pertalian karma dari kehidupan lampau, kami dapat memperoleh kelahiran sebagai manusia yang sukar diperoleh, dan mendengar Buddhadharma yang sukar didengar; sehingga memahami prinsip tentang buah perbuatan baik dan buruk, hukum karma tiga masa, serta tumimbal lahir di Enam Alam Kehidupan; juga memahami jalan untuk melafalkan nama Buddha, terlahir di Sukhavati, dan mencapai pembebasan sejati. Demi menunaikan jalan saling bersyukur dan membalas budi, dengan hormat kami menuturkan kebenaran ajaran Buddha dan dengan khidmat memaparkan Dharma penyelamatan nan luhur; semoga para arwah sekalian melafalkan nama Buddha Amitabha, dengan menumpang daya ikrar Buddha serta bersandar pada jasa-kebajikan Beliau, selamanya terlepas dari lautan derita kelahiran dan kematian, dan terlahir di Sukhavati, alam Nirvana nan kekal abadi.

Dengan sebulat hati kami menyeru arwah [nama]: semoga, dengan menumpang daya ikrar Buddha serta bersandar pada jasa-kebajikan Beliau, datang ke hadapan singgasana Buddha, beroleh penyelamatan Buddha, Terlahir di Sukhavati.

(Lafalkan "Namo Amituofo" sepuluh kali, atau ratusan hingga ribuan kali.)

· · · · · · · · ·

Sang Buddha bersabda: “Ketiga Alam tiada tenteram, laksana rumah yang terbakar; penuh dengan segala derita, sungguh amat menakutkan.” Di Enam Alam Kehidupan, baik terlahir sebagai manusia maupun di alam dewa, semuanya tidak lain adalah derita: derita jasmani dan batin, derita dari lingkungan sekitar, derita tumimbal lahir; derita besar maupun kecil, derita panjang maupun singkat; perkara derita tiada habisnya, lautan derita tiada bertepi, derita yang tak terperikan.

Buddha Amitabha menyaksikan para makhluk berputar dalam tumimbal lahir di Enam Alam Kehidupan, tenggelam dalam tiga alam rendah, menimbun karma dan dosa, menanggung derita dan kesengsaraan, dari kehidupan ke kehidupan, tiada habis-habisnya. Maka Buddha membangkitkan ikrar welas asih — secara aktif, atas inisiatif sendiri, setara, dan tanpa syarat — berkehendak menyeberangkan secara luas segenap makhluk berdosa dan menderita di sepuluh penjuru. Siapa pun makhluk di Enam Alam Kehidupan — baik di alam dewa maupun alam manusia, baik orang baik maupun orang jahat, baik di tiga alam rendah maupun dari berbagai jenis kelahiran — cukup dengan melafalkan “Namo Amituofo”, Buddha Amitabha seketika menampakkan diri menyahut seruan itu, memancarkan cahaya yang melindungi dan memberkati, lalu menjemputnya di atas tahta teratai; dan dalam sekejap, ia pun terlahir di Sukhavati. Selamanya terlepas dari kelahiran dan kematian, tidak lagi mengalami tumimbal lahir; jasmani dan batin tenteram dan bahagia, serta dengan cepat mencapai buah Kebuddhaan.

Bagi para makhluk di sepuluh penjuru, Buddha Amitabha telah mewujudkan Alam Sukhavati. Makhluk mana pun, begitu terlahir di Alam Sukhavati, seketika telah memutus tumimbal lahir di Enam Alam Kehidupan, selamanya tiada lagi derita dari segala kerisauan jasmani dan batin; tiada pula Delapan Derita — derita kelahiran, derita usia tua, derita sakit, derita kematian, derita berpisah dari yang dicintai, derita berjumpa dengan yang dibenci, derita tidak memperoleh yang diinginkan, dan derita lima kelompok kehidupan yang membara; bahkan tiada lagi derita apa pun, yang ada hanyalah segala kebahagiaan.

Yang terlahir di sana memiliki wajah dan rupa tubuh yang agung dan sempurna, tak berbeda dengan Buddha, turut merealisasi Ciri-ciri keagungan tak terhingga, cahaya tak terhingga, usia tak terhingga, kebijaksanaan tak terhingga, welas asih tak terhingga, dan jasa-kebajikan tak terhingga; ikrar yang luas dan mendalam, kesaktian nan agung, kefasihan tanpa hambatan, serta leluasa dalam segala hal.

Terlahir di Sukhavati berarti merealisasi Nirvana, berarti pula mencapai Kebuddhaan secara sempurna; kegelapan batin lenyap sepenuhnya, kilesa dan karma pun terputus; usia kekal abadi, tak rusak dan tak musnah; jasmani bebas dari kelahiran, penuaan, sakit, dan kematian; batin bebas dari kerisauan, kesedihan, derita, dan kepedihan; welas asih, kebijaksanaan, dan daya ikrar nan luas dan mendalam; kesaktian yang leluasa tanpa hambatan. Berkat kesaktian nan agung serta leluasa tanpa hambatan itu, di alam ini maupun alam lain, bahkan di seluruh dunia sepuluh penjuru, dalam satu kebersitan pikiran dapat hadir serentak di segala tempat, bebas datang dan pergi. Bila hendak menemui Sanak keluarga di kehidupan ini, bahkan ayah-ibu, anak, serta segenap sanak-kerabat dari kehidupan demi kehidupan, semuanya dapat dijumpai sekehendak hati, lalu menjelma dalam wujud yang sesuai untuk menyeberangkan mereka. Juga dapat, di seluruh dunia sepuluh penjuru, menampilkan beragam wujud dengan leluasa, membabarkan Dharma nan luhur, dan menyeberangkan secara luas para makhluk.

Dalam ikrar-Nya, Buddha Amitabha bersabda: “Para makhluk di sepuluh penjuru, yang dengan sepenuh hati, penuh keyakinan dan sukacita, ingin terlahir di negeri-Ku, bahkan hanya dengan sepuluh kali melafalkan nama-Ku; jika mereka tidak terlahir di sana, Aku tidak akan mencapai Pencerahan Sempurna.”

Buddha Amitabha, sejak mencapai Kebuddhaan hingga kini genap sepuluh kalpa, siang malam senantiasa mengulurkan lengan emas-Nya, menyeru para makhluk di sepuluh penjuru — terutama makhluk yang tenggelam dalam alam-alam sengsara, yang menanggung derita teramat berat — seraya bersabda: “Wahai segala makhluk yang berputar di berbagai alam tumimbal lahir, segeralah terlahir di negeri-Ku dan nikmati kebahagiaan; senantiasa Kugerakkan hati welas asih untuk mengentaskan para makhluk, hingga tuntas Kuseberangkan makhluk sengsara di Neraka Avici.”

Maka dari itu, para arwah sekalian semuanya adalah yang hendak diselamatkan Buddha Amitabha; cukup dengan melafalkan nama Buddha saat ini juga, seketika itu pula terlahir di Sukhavati.

Sang patriark bersabda: “Berkat daya ikrar Buddha: pelaku lima dosa besar dan sepuluh kejahatan pun, dosanya terhapus lalu beroleh kelahiran di Sukhavati; pemfitnah Dharma dan kaum icchantika pun, bila berbalik hati, semuanya terlahir di sana.”

Gatha Pujian Buddha

Tubuh Buddha Amitabha bercahaya bagai gunung emas, Ciri-ciri keagungan dan cahaya-Nya menyinari sepuluh penjuru; Hanya yang melafalkan nama Buddha dirangkul oleh cahaya-Nya, Ketahuilah, Ikrar Pokok itulah yang paling perkasa. Para Buddha dari enam penjuru menjulurkan lidah untuk bersaksi, Yang khusus melafalkan nama-Nya pun sampai ke Sukhavati; Setiba di sana, teratai pun merekah, lalu terdengarlah Dharma nan luhur, Ikrar dan amalan daśabhumi pun dengan sendirinya terwujud.

Dengan hormat kami mohon segenap hadirin majelis Dharma mengumandangkan nama Buddha; wahai para arwah sekalian, dengan setulus dan sepenuh hati, turutlah melafalkannya seiring lantunan, demi terlahir di Sukhavati.

(Lafalkan "Namo Amituofo" sepuluh kali, atau ratusan hingga ribuan kali.)

· · · · · · · · ·

Pelimpahan Jasa

Semoga segenap makhluk sama-sama melafalkan nama Buddha, Saat ajal tiba, terlahir di Sukhavati; Sanak keluarga dan kaum kerabat berkumpul kembali untuk selamanya, Dengan cahaya dan usia bagai Sang Raja Ikrar Agung, Buddha Amitabha.

Semoga jasa-kebajikan ini (dipersembahkan bagi arwah [nama]) Dilimpahkan merata kepada semua, Agar bersama-sama membangkitkan Bodhicitta, Terlahir di Sukhavati. Namo Amituofo.

(Memberi penghormatan kepada Buddha — tiga kali)

阅读
语言
功能

分享文章

微信分享

扫描二维码,或复制链接分享