Mengapa Para Pelafal Nama Buddha Setiap Tahun Tetap Bersembahyang kepada Leluhur? | Master Jingben

阅读
语言
功能

【Seri Tanya-Jawab】

Mengapa Para Pelafal Nama Buddha Setiap Tahun Tetap Bersembahyang kepada Leluhur?

Pertanyaan: Bhante, Namo Amitabha Buddha. Saya memiliki sebuah pertanyaan: jika leluhur kita sudah lama bertumimbal lahir kembali atau sudah terlahir di Tanah Suci, mengapa setiap tahun kita masih mengadakan Festival Ceng Beng (Qing Ming), Festival Zhong Yuan (Ulambana), dan hari peringatan kematian? Sebenarnya kita sedang bersembahyang kepada siapa?

Saya pernah mencari jawaban di YouTube, dikatakan bahwa hal ini dapat membantu leluhur yang telah wafat untuk menambah jasa kebajikan, karena mungkin saja leluhur belum bertumimbal lahir kembali. Saya adalah pelafal Nama Buddha, dan dengan teguh meyakini bahwa selama kita melafalkan Nama Buddha, kita pasti akan terlahir di Tanah Suci dari Sang Bapa Welas Asih. Tetapi saya masih belum mengerti, mengapa setiap tahun kita masih mengadakan upacara sembahyang ini? Apakah ini hanya untuk mengenang sanak keluarga yang telah meninggal? Sebenarnya kita bersembahyang kepada siapa? Mohon petunjuk dari Bhante. Terima kasih.

Jawaban Master Jingben: Namo Amitabha Buddha. Pertanyaan Anda sangat baik. Sebagai pelafal Nama Buddha, dengan teguh meyakini bahwa pelafalan Nama Buddha pasti dapat membawa kita terlahir di Tanah Suci Buddha Amitabha — ini sepenuhnya benar. Lalu, apakah makna dari Festival Ceng Beng, Festival Zhong Yuan, dan hari peringatan kematian setiap tahun ini? Sebenarnya kita bersembahyang kepada siapa?

Sebenarnya, sembahyang kepada leluhur tidak sekadar untuk “menyeberangkan arwah” — lebih dari itu, ini adalah mengenang yang telah berpulang dengan penuh hormat. Ini adalah perwujudan dan pewarisan ajaran bakti. Tidak peduli apakah leluhur sudah bertumimbal lahir kembali atau sudah terlahir di Tanah Suci, hati kita untuk mengenang budi kebaikan leluhur tetap tidak berubah.

Dan sebagai pelafal Nama Buddha, hal yang paling penting bagi kita pada hari-hari peringatan ini adalah melafalkan Nama Buddha dan melimpahkan jasanya kepada leluhur. Tidak peduli di mana pun leluhur berada saat ini, pelafalan Nama Buddha dan pelimpahan jasa tidak akan pernah sia-sia — semuanya membawa manfaat:

Jika leluhur sudah terlahir di Tanah Suci — pelafalan Nama Buddha dan pelimpahan jasa kita adalah doa agar jodoh Dharma leluhur semakin meningkat, sehingga dapat menolong para makhluk secara luas.

Jika leluhur sudah bertumimbal lahir kembali — pelafalan Nama Buddha dan pelimpahan jasa dapat menumbuhkan akar kebajikan dan jodoh baik mereka, sehingga dalam kehidupan ini mereka lebih mudah berjumpa dengan Dharma dan timbul hati untuk melafalkan Nama Buddha.

Jika leluhur belum bertumimbal lahir kembali — pelafalan Nama Buddha dan pelimpahan jasa justru langsung memberi manfaat kepada mereka, membantu mereka menerima pertolongan welas asih Buddha Amitabha.

Maka, di mana pun leluhur berada, satu kalimat “Namo Amitabha Buddha” jasa kebajikannya tidak akan pernah sia-sia. Apalagi, “ikrar untuk menolong semua makhluk yang tanpa batas” — para leluhur dan sanak keluarga kita dari kehidupan demi kehidupan tak terhingga banyaknya — melalui pelafalan Nama Buddha dan pelimpahan jasa, semuanya dapat menerima cahaya welas asih Buddha Amitabha, semuanya memiliki jodoh untuk diselamatkan.

Dan yang paling penting, kita sendiri juga harus melafalkan Nama Buddha dengan hati yang tenang, dan berikrar untuk terlahir di Tanah Suci Barat. Setelah kita terlahir di Tanah Suci, barulah kita benar-benar dapat menolong secara luas semua leluhur dan sanak keluarga yang memiliki jodoh dengan kita dari kehidupan demi kehidupan. Inilah cara membalas budi leluhur yang paling mendalam dan paling sempurna. Namo Amitabha Buddha.

阅读
语言
功能

分享文章

微信分享

扫描二维码,或复制链接分享