Jauh dari Keluarga, Anak yang Tak Mau Berusaha — Bagaimana Seorang Pelafal Menyikapinya? | Master Jingben

阅读
语言
功能

【Seri Tanya-Jawab】

Jauh dari Keluarga, Anak yang Tak Mau Berusaha — Bagaimana Seorang Pelafal Menyikapinya?

Pertanyaan: Pertanyaan 1: Namo Amituofo. Suhu yang penuh welas asih, saya merasa diri saya adalah orang yang jodoh keluarganya agak tipis — saya tidak terlalu dekat dengan suami maupun anak-anak saya, dan sesama anggota keluarga saling kesal dan saling membenci. Menurut pintu Dharma pelafalan Nama Buddha, bagaimana saya harus menangani keadaan seperti ini?

Pertanyaan 2: Anak lelaki saya selalu tampak malas, tidak mau maju, dan lesu tak bersemangat. Saya pun bingung — bagaimana saya, sebagai seorang pembelajar Buddha, harus menyikapi hal ini?

Jawaban Master Jingben: Namo Amituofo.

1. Mengenai Jodoh Keluarga yang Tipis dan Sesama Anggota Keluarga yang Saling Kesal

Keterasingan dan gesekan di antara anggota keluarga adalah penderitaan yang sangat menggerus jiwa; saya memahami ketidakberdayaan Anda.

Pertama, dalam atau tipisnya jodoh keluarga berasal dari jodoh karma kehidupan-kehidupan lampau — tidak perlu menyalahkan diri secara berlebihan, dan hal itu tidak dapat dipaksakan. Tetapi mohon tenanglah: jodoh bukanlah sesuatu yang mati dan sudah ditakdirkan; ia dapat berangsur-angsur diubah dengan hati yang tulus. Melalui praktik pelafalan Nama Buddha, Anda dapat menyikapinya seperti ini:

Pertama, lafalkanlah Nama Buddha dan tenangkanlah hati Anda sendiri. Agar suasana di rumah berubah, sering kali itu dimulai dari "saya berubah terlebih dahulu." Ketika pelafalan membuat hati menjadi lembut dan tenang, nada bicara dan raut wajah Anda pun dengan sendirinya akan ikut berubah, dan tekanan yang dirasakan keluarga pun akan mereda.

Dalam kehidupan sehari-hari, kurangilah perhitungan, dan kurangilah saling menuntut. Sesama anggota keluarga menjadi saling membenci sering kali justru karena masing-masing memusatkan pandangan pada kekurangan yang lain dan menuntut yang lain berubah. Lebih baik ubahlah saat-saat "merasa tidak suka" itu menjadi satu demi satu lafalan "Namo Amituofo" — pada saat gesekan dan kekesalan itu terjadi, jangan terburu-buru membalas ucapan; lafalkanlah beberapa kali dalam hati secara diam-diam, tenangkan diri, dan banyak konflik pun akan berlalu begitu saja.

Pada saat yang sama, lafalkanlah Nama Buddha dan limpahkanlah jasa kebajikan bagi suami dan anak-anak Anda, dengan harapan semoga cahaya Amitabha melembutkan hati seluruh keluarga. Kita menunaikan tugas kita sebagai istri dan ibu dengan baik, dan menyerahkan sisanya kepada Buddha Amitabha. Ketahuilah: berkumpulnya kembali sebuah keluarga yang paling utama adalah kelak terlahir bersama di Tanah Suci — dengan menyimpan pemikiran ini, gesekan-gesekan kecil di depan mata tidak perlu dipandang terlalu berat.

2. Mengenai Anak Lelaki yang Malas dan Tidak Mau Maju

Mengenai anak lelaki Anda — sebenarnya, pertumbuhan seorang anak semuanya berlangsung secara bertahap; tidak perlu terlalu cemas, ataupun terburu-buru memberinya label.

Sebagai seorang ibu yang melafalkan Nama Buddha, Anda dapat menyikapinya demikian: kurangilah memarahi, perbanyaklah memahami — di balik kelesuan seorang anak sering kali ada sebabnya, mungkin tekanan, kegagalan, atau kebingungan, atau mungkin ia merasa bahwa pelajaran yang ada di hadapannya tidak ada manfaatnya baginya. Perhatikanlah dahulu apa yang ia pikirkan, barulah berbicara tentang kemajuan.

Anda juga dapat mendidik sesuai dengan bakatnya: perhatikanlah di mana letak minatnya, dan doronglah ia untuk belajar dan bertumbuh ke arah yang ia minati — dengan adanya minat, seseorang dengan sendirinya memiliki dorongan, yang jauh lebih efektif daripada memaksanya menempuh jalan yang tidak ingin ia tempuh. Sebagai orang tua, kita pun tidak perlu bersikeras bahwa "keberhasilan hanya dapat dicapai dengan menempuh satu jalan tertentu"; sebagaimana pepatah, semua jalan menuju Roma, dan setiap bidang melahirkan ahlinya sendiri — jika seorang anak dapat menemukan arah yang cocok untuk dirinya, itu pun sama-sama merupakan cara untuk menjadi orang yang berguna.

Ada satu lapisan yang lebih penting lagi — jalan mana pun yang kelak ditempuh anak Anda sesungguhnya tidak menjadi soal; yang paling penting adalah ia memiliki Nama Buddha. Kita para orang tua umumnya membawa sebuah tolok ukur di dalam hati, dan yang diukurnya adalah nilai, gelar, pekerjaan, penghasilan. Tolok ukur itu tidaklah keliru. Tetapi orang yang mempelajari ajaran Buddha hendaknya membawa satu tolok ukur lagi — apakah anak ini, dalam kehidupannya yang satu ini, telah berjumpa dengan Buddha Amitabha? Setinggi apa pun pencapaian duniawi seseorang, ketika napas tak lagi berlanjut, tak satu pun dapat dibawa pergi; hanya satu untaian nama ini, "Namo Amituofo," yang dapat membawa kita keluar dari kelahiran dan kematian. Master Shandao berkata: "Orang yang melafalkan Nama Buddha adalah orang baik di antara manusia, orang yang sungguh baik di antara manusia, orang yang tertinggi di antara manusia, orang yang langka di antara manusia, orang yang paling unggul di antara manusia." — yang dikatakan Sang Master hanyalah "orang yang melafalkan Nama Buddha." Maka apa pun yang kelak dilakukan anak Anda, itu baik adanya; asalkan dalam kehidupan ini ia dapat melafalkan Nama Buddha dan terlahir di Tanah Suci, maka di mata Buddha Amitabha ia sudah menjadi "orang yang paling unggul di antara manusia." Ini bukan berarti membiarkannya begitu saja — yang perlu dibimbing tetap dibimbing. Hanya saja, begitu tolok ukur di hati kita diletakkan dengan tepat, cara kita memandang anak pun berubah: kecemasan memudar, dan rasa sayang yang lembut naik ke permukaan.

Pada saat yang sama, lafalkanlah Nama Buddha dan limpahkanlah jasa kebajikan bagi anak Anda, dengan harapan semoga cahaya Buddha memberkatinya dan membantunya bertumbuh menjadi ceria dan bersemangat. Mengubah kekhawatiran di hati Anda menjadi lafalan Nama Buddha yang bersambung-sambung lebih berkekuatan daripada mengomel. Kita menunaikan tugas kita sebagai orang tua — membimbing, mendorong, menemani — dan adapun mengenai hasilnya, serahkanlah kepada jodoh, serahkanlah kepada Buddha Amitabha; tidak perlu memikul seluruh kehidupan anak di atas hati kita sendiri.

Singkatnya, baik itu jodoh keluarga, maupun pertumbuhan seorang anak, bagi kita selalu sama: tunaikanlah tugas kita sendiri, dan serahkanlah sisanya melalui pelafalan Nama Buddha. Satu "Namo Amituofo" ini sekaligus menenangkan hati kita sendiri, dan diam-diam menyuburkan seluruh keluarga. Namo Amituofo

阅读
语言
功能

分享文章

微信分享

扫描二维码,或复制链接分享