Tangisan Keluarga — Apakah Menghalangi Orang Terkasih Terlahir di Tanah Suci? | Master Jingben

阅读
语言
功能

【Seri Tanya-Jawab】

Tangisan Keluarga — Apakah Menghalangi Orang Terkasih Terlahir di Tanah Suci?

Pertanyaan: Suhu, bolehkah saya bertanya — ketika kita menangisi anggota keluarga yang kita kasihi, apakah itu memengaruhi atau menghalangi mendiang, sehingga ia tidak dapat pergi ke Tanah Suci? Ketika anggota keluarga saya berpulang waktu itu, sepertinya saya sempat menangis sebentar. Apa yang harus saya lakukan?

Jawaban Master Jingben: Namo Amituofo. Mohon tenangkan hati Anda terlebih dahulu: jangan khawatir, dan terlebih lagi jangan menyalahkan diri sendiri.

Menangisi sanak yang paling dekat dengan kita lahir dari kasih dan dari beratnya melepaskan — itu manusiawi dan sepenuhnya wajar. Menangis tidak akan lantas menyebabkan anggota keluarga Anda pasti tidak dapat terlahir di Tanah Suci, ataupun menghalanginya pergi ke Tanah Suci.

Apa yang dikatakan sebelumnya tentang sebisa mungkin tidak menangis pada saat menjelang ajal dan saat berpulang adalah demi menciptakan lingkungan pelafalan yang paling tenang dan paling ideal bagi mendiang — itu adalah suatu bentuk bantuan pendampingan; tetapi itu tidak berarti bahwa begitu keluarga meneteskan air mata, mendiang pasti tidak dapat pergi. Kelahiran di Tanah Suci bersandar pada kekuatan ikrar Buddha Amitabha, bukan pada apakah keluarganya menangis atau tidak.

Ketahuilah: penyelamatan Buddha Amitabha sungguh amat berkekuatan. Ikrar agung Buddha Amitabha itu luas dan kokoh; ia tidak akan runtuh hanya karena keluarga meneteskan beberapa tetes air mata. Sutra Kontemplasi mengatakan: "Cahaya-Nya menyinari seluruh dunia di sepuluh penjuru, merangkul dan tak pernah meninggalkan para makhluk yang melafalkan nama Buddha." Cahaya Buddha Amitabha senantiasa merangkul mereka yang melafalkan Nama Buddha dan tak pernah meninggalkan mereka — Beliau tidak akan pernah menyingkirkan seseorang hanya karena keluarganya meneteskan air mata pada saat ajal. Dan sekalipun pikiran mendiang mungkin sedikit terguncang, cahaya Buddha Amitabha pun akan dengan sendirinya menenangkan dan menyelaraskannya.

Adapun mengenai keadaan Anda — hal itu pun sudah lama berlalu, dan tidak perlu lagi disesali. Kita bukan kayu atau batu; ketika sanak terdekat kita pergi, bagaimana mungkin kita tidak bersedih? Buddha Amitabha melihat semua ini dengan jelas, dan hanya berbelas kasih kepada kita; Beliau tidak akan pernah menyalahkan kita. Kini, setiap kali kita teringat pada sanak yang telah berpulang, kita cukup terus melafalkan Nama Buddha bagi mereka.

Jika kelak Anda sungguh menghadapi lagi kepergian anggota keluarga, dan emosi Anda benar-benar terguncang hebat, menyingkirlah sejenak, biarkan hati Anda sedikit tenang, lalu kembali dan lafalkanlah Nama Buddha. Kita tetap sebaiknya berusaha memberikan lingkungan pelafalan yang paling tenang bagi mendiang. Dan seandainya Anda tidak mampu menahannya, tidak perlu panik ataupun menyalahkan diri sendiri — lakukanlah semampu Anda, dan serahkanlah sanak Anda kepada Buddha Amitabha.

Maka, daripada tenggelam dalam kekhawatiran dan penyesalan, lebih baik manfaatkanlah saat ini: lafalkanlah "Namo Amituofo" bagi sanak Anda yang telah berpulang sekarang juga, dan limpahkanlah jasa kebajikannya kepada mereka. Terus melafalkan Nama Buddha bagi mereka jauh lebih bermakna dan lebih membantu daripada penyesalan. Buddha Amitabha penuh welas asih, dan sepenuhnya memahami betapa beratnya bagi kita melepaskan sanak yang kita kasihi; mohon jangan terlalu menyalahkan diri sendiri.

Letakkanlah kekhawatiran di hati Anda, dan ubahlah kerinduan kepada sanak Anda ini menjadi lafalan Nama Buddha yang bersambung-sambung — inilah bantuan yang paling nyata yang dapat Anda berikan kepada mereka.

Dan bagi kita sendiri — kita pun melafalkan Nama Buddha, kita pun beraspirasi terlahir di Tanah Suci; kelak terlahir bersama di Tanah Suci itulah perjumpaan kembali yang sejati dan kekal dengan mereka yang paling kita kasihi. Namo Amituofo

阅读
语言
功能

分享文章

微信分享

扫描二维码,或复制链接分享