Upaya Membimbing Keluarga Belajar Dharma Ditolak — Lanjut atau Menyerah? | Master Jingben
【Seri Tanya-Jawab】
Upaya Membimbing Keluarga Belajar Dharma Ditolak — Lanjut atau Menyerah?
Namun Minggu lalu, seusai latihan bersama, dalam perjalanan pulang ia tiba-tiba marah dan mengatakan agar saya berhenti mengatur kepergiannya ke pusat Dharma — padahal itu baru keempat kalinya ia ke sana. Kata-katanya sangat keras: ia berkata sekali saja sudah cukup baginya, bahkan berkata, "Kamu patut bersyukur aku mau ikut denganmu." Saya benar-benar tertegun.
Padahal, setiap kali sebelum mendaftarkannya, saya selalu bertanya kepadanya, dan ia selalu mengatakan tidak apa-apa; video-video yang saya kirimkan pun ia tonton semua. Usianya sudah enam puluhan tahun, dan saya hanya ingin ia lebih cepat berpaling kepada Buddha Amitabha. Saya juga akhirnya berhasil membujuk mertua saya untuk berlindung pada Triratna, dan setiap hari saya melimpahkan jasa kebajikan bagi mereka; ibu mertua saya mengalami demensia, dan setiap kali saya menjenguknya, saya pun melafalkan Nama Buddha agar ia dapat mendengarnya.
Saya sangat terluka dan kecewa — saya selalu mengira kami menuju arah yang sama, mengapa ia berkata demikian? Kata-katanya terdengar seolah-olah saya telah memaksanya. Saya bahkan berpikir untuk menyerah: tidak lagi mengajaknya, dan tidak lagi membagikan ajaran Suhu. Saya tahu tindakan demikian tidak sesuai dengan Dharma, tetapi hati saya sungguh lelah. Saya memohon petunjuk dari Suhu. Terima kasih.
Jawaban Master Jingben: Namo Amituofo.
Pertama-tama, izinkan saya turut bersukacita dan memuji segala yang telah Anda lakukan bagi suami dan mertua Anda: membujuk mertua untuk berlindung pada Triratna, melimpahkan jasa kebajikan setiap hari, melafalkan Nama Buddha bagi ibu mertua saat menjenguknya, dan sepanjang waktu membimbing suami mempelajari Dharma… hati Anda ini sungguh langka. Dan saya dapat memahami: ketika orang yang paling dekat dengan kita berkata demikian, rasa terluka dan kecewa yang Anda rasakan adalah hal yang manusiawi.
Namun, mohon jangan berkecil hati. Mari kita melihat hal ini dari sudut pandang yang lain, agar tampak jelas:
1. Suami Anda Sesungguhnya Tidak Menolak Dharma
Renungkanlah baik-baik: suami Anda telah ikut ke pusat Dharma bersama Anda sebanyak empat kali, dan video-video yang Anda kirimkan pun ia tonton — bagi seorang pria berusia enam puluhan tahun, dapat melakukan sebanyak itu menunjukkan bahwa akar kebajikannya memang selalu ada. Apa yang ia katakan kali ini mungkin hanyalah mengenai hal "pergi ke pusat Dharma" saja, yang terucap karena perasaan pribadi sesaat; itu bukanlah penolakan terhadap Buddha Amitabha, apalagi penolakan terhadap Anda.
2. Perbanyaklah Pengertian
Untuk datang berlatih bersama di pusat Dharma, sesungguhnya diperlukan banyak jalinan kondisi — waktu, tenaga, transportasi, suasana hati, kebiasaan; semuanya harus selaras. Pada usia suami Anda, belum terbiasa datang ke pusat Dharma adalah hal yang sangat wajar, dan tidak perlu dipandang sebagai kemunduran. Sedangkan mendengarkan Dharma di rumah, menonton video, melafalkan Nama Buddha — semua itu tidak ia tolak; jalinan kebajikan ini selalu terbuka. Jadi, bukanlah ia tidak mau belajar Dharma; hanya saja jodoh untuk bentuk yang satu ini — "datang ke pusat Dharma" — belum matang untuk sementara waktu.
3. Biarkan Keyakinan Mengikuti Jodoh
"Meyakini sendiri, lalu mengajarkan orang lain untuk meyakini" — ia harus sesuai dengan orangnya, dan sesuai pula dengan jodohnya. Bila didesak terlalu keras, hal yang baik pun akan terasa seperti tekanan, sehingga menimbulkan penolakan: tergesa-gesa justru tidak sampai. Di antara suami dan istri, langkah dan cara masing-masing mungkin berbeda untuk sementara, tetapi pintu Dharma dan arahnya tetaplah sama.
4. Yang Dapat Anda Lakukan secara Nyata
Mengenai pusat Dharma: ikutilah kehendak suami Anda sendiri, biarkan ia yang memutuskan. Sesekali, Anda juga dapat menyampaikan sebuah "undangan" agar ia ikut serta. Pintu pusat Dharma selalu terbuka — pada hari ia sendiri ingin pergi, Anda dapat dengan gembira pergi bersamanya.
Mengenai video dan mendengarkan Dharma: Anda dapat terus membagikannya, hanya saja dengan cara yang lebih ringan — bagikanlah sesuai jodoh, tanpa harapan, dan tanpa menanyakan, "Sudah ditonton belum?" Biarkanlah itu tetap menjadi "berbagi" antara suami dan istri — menyampaikan bahwa Anda sendiri merasa yang satu ini sangat bermanfaat, dan bukan menjadikannya sebuah "tugas."
Yang terpenting: biarlah teladan menggantikan nasihat. Ketika Anda sendiri melafalkan Nama Buddha dengan gembira dan menjalani hidup dengan tenang dan leluasa, suami Anda akan melihat pada diri Anda betapa baiknya menjadi seorang pelafal Nama Buddha — ini jauh lebih meyakinkan daripada seratus video. Pada saat yang sama, ubahlah tenaga yang Anda curahkan untuk "membujuk" menjadi kekuatan ikrar: lafalkanlah Nama Buddha dan limpahkanlah jasa kebajikan baginya, serahkanlah pengaturannya kepada Buddha Amitabha — Buddha Amitabha jauh lebih memahami waktu dan jodoh daripada kita.
5. Anda Sudah Melakukannya dengan Sangat Baik
Benih-benih yang Anda tanam selama bertahun-tahun ini — empat kali ke pusat Dharma, video demi video — semuanya telah masuk ke dalam ladang hati suami Anda. Mohon jagalah juga hati Anda sendiri: ketika ia lelah, berdiamlah dahulu dalam pelafalan Nama Buddha Anda sendiri. Begitu hati Anda tenang dan longgar, suasana di rumah pun dengan sendirinya ikut melonggar, dan suami Anda justru akan lebih mudah mendekat.
Suami dan istri memiliki jodoh yang dalam. Langkah yang untuk sementara berbeda tidaklah menjadi soal; lagi pula, tidak ada seorang pun yang dapat sama persis dengan diri kita sendiri. Tetapi kita masih dapat sama-sama melafalkan satu Nama ini, "Namo Amituofo," dan kelak terlahir bersama di Tanah Suci — itulah cara berjalan bersama yang paling utama. Serahkanlah suami Anda kepada Buddha Amitabha, lafalkanlah Nama Buddha dengan hati yang tenang, dan janganlah terburu-buru — Buddha Amitabha senantiasa ada. Namo Amituofo
微信分享
扫描二维码,或复制链接分享