Dua Ayah— Buddha Amitabha, Sang Ayah yang Penuh Welas Asih, Menyambut Ayahku Pulang ke Tanah Suci

阅读
语言
功能

Dua Ayah

— Buddha Amitabha, Sang Ayah yang Penuh Welas Asih, Menyambut Ayahku Pulang ke Tanah Suci

Suhu, Namo Amitabha Buddha. Saya Fopan. Pada tahun 2020, saya kebetulan melewati Vihara Amitabha di Singapura dan tertarik oleh patung Buddha Amitabha yang agung. Begitulah saya pertama kali mengenal Buddhisme Tanah Suci. Sebelumnya saya pernah melihat patung Buddha Amitabha ini di internet, sehingga saya seketika mengenalinya sebagai Sang Ayah kita yang Penuh Welas Asih, Amitabha. Saat memandang patung-Nya, hati saya terharu tak terkatakan. Ketika memasuki vihara untuk bersujud kepada Buddha, air mata saya jatuh dengan sendirinya. Rasanya seolah bertemu kembali dengan sanak yang telah lama berpisah, bagai pulang ke rumah setelah bertahun-tahun, dan hati saya dipenuhi kehangatan.

Setelah itu, melalui membaca, belajar di internet, serta mendengarkan ceramah Dharma para Suhu dan kisah-kisah nyata kelahiran di Tanah Suci, saya perlahan memahami ajaran Tanah Suci. Saya ingat, pada Januari 2021, ketika pemahaman saya tentang Buddhisme Tanah Suci masih setengah-setengah, ayah saya tiba-tiba tidak sadarkan diri dan segera dilarikan ke rumah sakit, lalu didiagnosis terkena radang paru-paru. Ayah saya sudah berusia 92 tahun. Dokter tidak menyarankan pengobatan agresif, dan meminta kami untuk bersiap-siap. Dalam sakitnya, ayah merintih kesakitan, dan bahkan menyebut melihat sanak keluarga yang telah meninggal datang menghampirinya. Saya tahu dalam hati bahwa ini pertanda buruk, maka saya memberi tahu ayah bahwa ia hanya boleh mengikuti Buddha Amitabha. Namun ayah belum pernah melihat gambar Buddha Amitabha, sementara saya tidak pandai berkata-kata dan tidak tahu bagaimana menggambarkan dengan jelas wujud agung Sang Ayah yang Penuh Welas Asih. Yang dapat saya katakan hanyalah: Buddha Amitabha akan datang membawa bunga teratai untuk menyambutnya terlahir di Tanah Suci di Barat.

Setelah itu, ayah berangsur-angsur menjadi tidak sadarkan diri dan tak lagi mampu berbicara. Saya memohon dengan hormat agar Suhu datang ke rumah sakit untuk memberikan ceramah Dharma kepada ayah. Setelah ceramah selesai, saya pun mengajak ayah melafalkan nama Buddha bersama-sama. Sungguh menakjubkan, ayah yang tadinya sudah tidak dapat berbicara ternyata mampu menyelesaikan sepuluh kali pelafalan nama Buddha, kata demi kata. Sayangnya, setelah sepuluh kali itu, ia kembali tak mampu bersuara.

Ayah ingin pulang, maka saya membawanya pulang. Setibanya di rumah, saya memutar alat pelafalan nama Buddha selama 24 jam, dan saya sendiri menjaga di samping tempat tidurnya sambil melafalkan nama Buddha. Kondisi ayah naik-turun, maka saya terus mengingatkannya untuk melafalkan nama Buddha, serta berpesan bahwa jika ia melihat Buddha Amitabha datang menyambut, ia harus mengikuti Buddha untuk terlahir di Tanah Suci. Tindakan-tindakan saya ini sering tidak dipahami oleh orang lain, dan kesedihan serta tekanan yang saya rasakan sungguh tak terlukiskan. Saat itu, seharusnya saya kembali memohon Suhu datang untuk memberikan ceramah pendampingan menjelang ajal, tetapi karena tidak berani membicarakannya dengan keluarga, saya hanya bisa melafalkan nama Buddha untuk ayah seorang diri. Pada waktu itu, karena pemahaman saya tentang ajaran Tanah Suci masih dangkal, saya hanya tahu untuk terus mendorong ayah melafalkan nama Buddha.

Kemudian, saya teringat bahwa ayah selalu menyukai masakan menantu perempuannya. Namun saat itu ayah sudah tidak dapat menyantap makanan padat, maka saya menyuapinya sedikit kuah. Dua jam lebih kemudian, ayah pun wafat dengan tenang. Agar tidak ada penyesalan, saya memohon dengan hormat kepada Suhu untuk mengadakan upacara pendampingan pelafalan nama Buddha bagi ayah. Tak disangka, sekitar separuh anggota keluarga ikut melafalkan nama Buddha bersama Suhu.

Pada hari ketiga setelah pemakaman, kakak kedua saya memberi tahu bahwa seorang pendeta Tao—yang pernah bertemu ayah lebih dari sepuluh tahun lalu dan tidak tahu bahwa ayah telah meninggal—mengatakan bahwa ia melihat ayah duduk di atas bunga teratai dan terlahir di Tanah Suci. Mendengar itu, saya terharu hingga meneteskan air mata. Sekitar dua bulan kemudian, saya bermimpi melihat seorang Suhu yang berkata kepada saya, "Ini ayahmu." Dalam mimpi itu, ayah telah berwujud seperti seorang Buddha, sangat agung.

Hal ini membuktikan jasa kebajikan yang tak terbayangkan dari Namo Amitabha Buddha: cahaya Buddha Amitabha merangkul dan tak pernah meninggalkan para makhluk yang melafalkan nama-Nya. Sebagaimana sabda Master Yinguang, "Ketahuilah, di antara segala upacara Buddhis, melafalkan nama Buddha memiliki jasa kebajikan yang paling besar."

Saya sangat berterima kasih kepada para Suhu atas welas asih mereka dalam mendampingi pelafalan nama Buddha dan merawat ayah. Saya berikrar untuk menjadi relawan di Vihara Amitabha, dengan harapan dapat membantu lebih banyak orang mengenal dan menerima nama Buddha ini dengan keyakinan, agar bersama-sama kita meyakini Buddha, melafalkan nama-Nya, dan terlahir bersama di Tanah Suci.

Namo Amitabha Buddha

Dengan hormat, murid Anda, Fopan

Catatan dari Master Jingben

Kisah nyata kelahiran di Tanah Suci melalui pelafalan nama Buddha ini justru menampakkan kekuatan tak terbayangkan dari Ikrar Pokok Buddha Amitabha. Semasa hidupnya, ayah Fopan tidak banyak mengetahui tentang ajaran pelafalan nama Buddha; dan menjelang ajalnya, ia didera penderitaan penyakit serta nyaris tak mampu berbicara—namun, hanya dengan melafalkan satu nama ini, "Namo Amitabha Buddha," ia disambut oleh Buddha dan terlahir di Tanah Suci. Inilah perwujudan paling nyata dari Ikrar Kedelapan Belas: "Bahkan dengan sepuluh kali pelafalan, jika mereka tidak terlahir di Tanah Suci-Ku, Aku tidak akan mencapai Penerangan Sempurna."

Dengan demikian, kelahiran di Tanah Suci tidak pernah bergantung pada kefasihan kita berbicara atau seberapa banyak ajaran yang kita pahami; semuanya sepenuhnya bersandar pada kekuatan Ikrar Amitabha. Teman se-Dharma kita, Fopan, saat itu merasa dirinya tidak pandai berkata-kata dan hanya sedikit memahami Tanah Suci, namun hal itu sama sekali tidak menghalangi ayahnya untuk disambut oleh Buddha—dan inilah yang justru menampakkan keagungan penyelamatan melalui Kekuatan Lain.

Pada Hari Ayah ini, semoga kisah pelafalan nama Buddha ini meneguhkan keyakinan kita semua dalam melafalkan nama Buddha: asalkan kita senantiasa melafalkan nama Amitabha secara khusus, maka di akhir hayat kita pasti akan disambut oleh-Nya, dan kelahiran kita di Tanah Suci pun terjamin. Semoga pula cahaya welas asih Amitabha, Sang Ayah kita yang Penuh Welas Asih, menyinari semua, melindungi setiap ayah di dunia ini, agar masing-masing dapat menjalin jodoh yang mendalam dengan nama "Namo Amitabha Buddha" ini, dan agar semua, dirangkul oleh Amitabha, pulang bersama ke kampung halaman sejati kita, Tanah Suci.

Namo Amitabha Buddha

(Diterbitkan pada Hari Ayah, 21 Juni 2026)

阅读
语言
功能

分享文章

微信分享

扫描二维码,或复制链接分享